Showing posts with label work. Show all posts
Showing posts with label work. Show all posts

Monday, March 12, 2018

Merasa Penting itu Penting

Quick post di sela-sela gelisah karena application deadline just around the corner!

Lagi cari referensi untuk bikin esai lalu stumbled on this writing. I wrote it for Chevening scholarship application in, I dunno, 2015? Lost count. Kalau gak salah waktu itu pertanyaanya kayak "apa arti leadership buat kamu?".

Looking this essay I remembered he asked me one day, what quality did I gain from Pinteraktif, what an added value I have obtained. Waktu itu topik awalnya adalah soal gaji, kemudian dia sih lebih emphasize di value aja ketimbang duit. I answered something about leadership but I didn't recall exactly the detail. Ternyata jawabannya ada di esai ini:


I used to think that the word “leadership” solely means “to lead”. In that case, “leading” implies on bravely standing up for others and taking blames when something goes wrong. Perhaps that was the reason I never wanted to become a leader. It seemed all responsibilities will be on me. However, as I grew up and experienced challenges, I figured out that leadership values are not only built on responsibility but also other important qualities such as communication, strategy, teamwork, passion, and integrity.

It came to a realization that I have been applying these values throughout the three years of my professional life. As an instructional designer, I created a learning framework which was then discussed with clients who were experts on the learning subject. Inevitably, disagreements occurred at some points. To get it off the table, I objectively reminded the initial goal so that a consensus can eventually be reached. Similar communication strategy was relevant to internal team as well. In order to perform smooth teamwork, I made different approaches for every unit so they got clear instruction on what to do.

Beyond my job routine, I have also been engaging in a city project. The project requires a content team to transform mundane data sheet into interactive displays. I have a significant role in the team by designing a workflow content production. This is important because it is used to point out timeline and output. To contribute in a city project is surely not a minor duty. I challenged myself to join because I knew the project involves public engagement which I passionate about. Involved in both occupations also strengthen my integrity that without which any activities would be meaningless.
I now understand that although leadership requires a lot of work, it is rewarding. Leadership is not all about being in the front but it is more about creating positive influence driven by passion.

Good ol' times. :p

It leads me to think that somehow I was happier and more fulfilled back then. Aku bukannya gak bersyukur dengan keadaan sekarang sih. The unpleasant events in work are also a blessing which I've been learning from to this day. Proses stretching emang gak enak.

Then it reminds to a conversation I had with Mei couple days ago. Setelah cerita kehidupan masing-masing, sampai lah pada pembicaraan yang disepakati bersama bahwa "merasa penting itu penting". Bukan yang gila hormat dan haus perhatian, tapi menurutku pengakuan dan validasi adalah hal yang manusiawi, sepanjang dalam batas wajar. Ini konsep yang ada dimana-mana, dari bidang pendidikan sampe marketing. Kalau kamu dihargai, kamu akan memberikan lebih. Dan ketika kamu memberi lebih, kamu akan lebih dihargai.

Segitu dulu kontemplasi singkat malam ini.



Itung-itung sharing juga bentuk esai yang diminta kalau daftar-daftar beasiswa, hehe. Kalau ada yang salah silakan koreksi ya.

Cheers!

Saturday, February 24, 2018

Catatan Perjalanan Si Serbuk Micin

"Up to you. You're the boss," ujar seorang pria tengah baya asal Bangladesh, ramah setelah menenggak sirup jeruk botolan di depan minimarket 3 warna.

Saya, sebagai tokoh yang terbiasa mengambil peran remah-remah gurilem seribuan, langsung gelagapan sekaligus menampar (dalam pikiran) diri sendiri untuk jadi kuat karena toh memang sayalah yang harus bertanggung jawab. Siapa sangka, orang yang selalu merasa kecil dan berada di balik layar ini jadi orang yang menentukan waktu dan lokasi makan siang untuk orang Bangladesh di suatu daerah di Kabupaten Subang.

Gimana lagi kan (ter-teppy nih pake meme qasidah)
Jadi ceritanya 3 hari kemaren gw ditumbalin dapet tugas nemenin konsultan yang ditunjuk investor untuk menilai bisnis eFishery. Memang simply karena gak ada orang lain aja sih yang bisa (karena sibuk dan kendala bahasa), jadinya seorang content marketing officer dioper ke depan. Gw sebagai LO pun nemenin bapak-bapak Bangladesh ini ke kantor, warehouse, dan petani eFishery.

To give you some context, penunjukan gw sebagai LO ini ibarat Bibi (yang suka masakin makan siang di kantor) disuruh ikut quarterly meeting. Eh tapi jangankan Bibi, gw aja sebagai karyawan sering bengong :))). Pertama, walaupun iya sih udah beberapa kali kunjungan ke petani, tapi masih keitung jarang dan itu pun judulnya nebeng agenda. Kedua, ini kan investor--kan gak mungkin ya mereka nanya hal-hal ringan kaya kenapa tahu bulat digoreng dadakan. Ketiga, gw di-assign sendiri, Boi, sendiri! Oh iya, keempat, rencananya bahkan mau roadshow ke Pantura ngunjungin 3 petani di 3 lokasi berbeda. Si serbuk micin, sendiri, nemenin investor dari Bangladesh, keliling Pantura. Lempar saja aku ke kandang buaya, mz.

As it turned out, ternyata gak semengerikan yang dibayangkan. Akhirnya ada 2 orang yang nemenin di 2 hari berbeda. Pun, akhirnya visit petani cuma di 1 lokasi aja. Misuh-misuh selesai.

Apa yang mau gw highlight disini sih lebih ke pengalaman berkomunikasi dengan mereka. Sebut saja bapak-bapak Bangla ini K dan J. Hari pertama gw mules, hari kedua masih mules, hari ketiga juga mules. Intinya nemenin K dan J ini bikin pencernaan gak beres. Well, hari pertama was kinda shocking karena tentu saja yang namanya pertama suka ada efek kejut. Gw harus terbiasa dengerin English dengan aksen ala India dan frustasi ketika gak ngerti mereka ngomong apa. Lebih frustasi lagi ketika gak bisa jawab dengan baik.

Kita-kita mah kan ya baru kenal paling ngobrol asal daerah, kondisi jalan macet, cuaca, makanan, hobi. Lah ini, di hari pertama si Bapak K nanya soal stabilitas politik ("do you think it is politically stable in Indonesia?"), populasi kota ("what is the population in Bandung?"), perdagangan ("which one do you think Indonesia trade with the most, USA or China?"), dan komoditas agrikultur ("do Indonesia grow any nuts, like cashew?"). Gw merasa down dan super cape di hari pertama padahal secara fisik kerjanya cuma duduk dan ngomong doang. Aku pun curhat.

Well noted
Setelah curhat dan kontemplasi, gw berpikir sebenernya masalahnya di pede aja. Gw harus pede dengan broken English, yang penting message-nya dulu yang tersampaikan. Gw pun harus pede dengan jawaban gw kurang menjawab pertanyaan dia. Kalau gak tahu ya bilang aja. Karena setelah menghabiskan waktu lebih lama sama mereka, toh sebenernya mereka tuh cuma pengen tahu aja, bukan intimidating atau ngetes. Dia selalu pake pernyataan "what I'm trying to understand is..." yang gw nangkepnya ya emang pengen tahu aja and let me help you to understand. Pun, ketika dia kemudian misal cerita soal negaranya sendiri setelah dia tanya sesuatu soal Indonesia, terasa sekali diskusinya--sehingga gw pun merasa less intimidated.

Hari kedua, selama perjalanan pp Subang, walaupun mules, gw berusaha untuk memahami temuan gw di atas itu. Karena justru sekarang apa yang dia tanya dan ceritakan pun jadi hal menarik, kaya ketika dia nanya yang intinya kenapa kita sering lihat sawah daripada kolam ikan, padahal sama-sama butuh air dan lahan luas. Atau ketika dia nanya gimana Indonesia jadi negara muslim, influence dari negara mana yang bawa Islam jadi mayoritas, because Bangladesh is also a moslem country. Juga ketika dia nanya struktur tata negara kaya urutan dari negara-provinsi-kota-kecamatan, dia cerita juga kalau di Bangladesh itu pembagiannya lumayan banyak sampai ke unit terkecil. Lupa apa aja, salah duanya ada sector dan district. Momen yang rada cair adalah ketika lagi ngomongin orang :))), tapi itu kaya cuma 2% dari the whole topic hari itu.

Hari kedua: udah mules, hinyay lagi.
Di tambak udang Pak Bambang, Blanakan, Subang.

Hari ketiga, seharusnya udah gak ngurusin mereka lagi secara itinerary, tapi ya udah kadung apa-apa di gw jadi ya mau gak mau tetep ditemenin. Bapak K ini gw lihat sangat kepengen to the point, sedangkan orang yang diwawancaranya kalo jawab suka pake prolog dulu, atau nambah-nambahin poin. Disini gw melihat pola sih. Kadang, orang kita tuh kalo jawab sesuatu gak langsung ke intinya atau diulang-ulang. Apakah itu salah satu adat ketimuran yang membiasakan kita untuk memperhalus makna? Ini gw ngomongin diri sendiri sih.

Ketika berada di tengah sebagai translator antara Bapak K dan rekanan eFishery (orang Indonesia, sebut saja R), gw melihat dua sisi. Di sisi Bapak K dia punya pertanyaan semisal "do you have it?" yang dia gak peduli sama jawabannya mau yes atau no, toh gak ada yang bener--yang penting itu data. Sedangkan di sisi Bapak R ini gw bisa kebayang sebenernya jawabannya no tapi dia merasa kalo no ini jawaban yang buruk jadi dia kasih prolog dulu--yang padahal mah gak usah. Si Bapak K ini kelihatan gak sabar dengan jawaban Bapak R yang muter-muter, sehingga gw pun ikutan gemes "udah sih jawab ajaaa". Tapi kemudian gw kaya lihat diri sendiri. "Oh, gw gitu ya kalau ngomong, gak berani lugas.".

On the other side, si Bapak K ini emang dia punya banyak peer tapi waktunya sempit sih, jadinya serba buru-buru. Salah dia juga agenda sebanyak itu tapi business tripnya cuma 3 hari. You won't get as much as you want.

Di akhir sidak mereka, Bapak K dan Bapak J berjabat tangan dengan gw dan puja-puji meluncur. "Thank you, Hawa, you've been amazing". "Thank you for accompany us for the last 2 days". "Thank you for being proactive and helping". "Thank you so much". Basa-basi perpisahan sih, tapi quite nice juga sebagai penutup rangkaian mules ini. Selesai itu, gw kaya abis batre, langsung tidur di kantor dan "ke belakang" lamaa banget.

Kunjungan ini jadi their first time in visiting Indonesia, by the way.
Gw sih tetep tidak setuju dengan penunjukan go show sendirian ini. Tapi mungkin salah gw juga kenapa gak firmly bilang gak bisa di awal. Bisa jadi karena gw tergoda peluang untuk jadi significant sih. Pun, pada akhirnya, ada hal yang bisa dipetik dari pengalaman ini. Ketika di hari pertama gw down karena merasa gak lancar untuk komunikasi dengan orang asing dan langsung keinget gimana nanti kalau sekolah di luar negri, hari kedua dan berikutnya justru jadi merasa ya yaudah emang harus dihadapi--toh nanti juga bisa karena terbiasa. Dan ketika si Bapak K ini kritis banget nanya-nanyanya, gw juga langsung sadar soal kalau kita ke luar negri each of us itu adalah duta negara. Maka, sangat penting untuk setidaknya memperluas pengetahuan umum soal Indonesia. Hal yang jarang kita pikirkan kalau kita berada di dalam negeri. Or at least me--yang lebih tahu perbedaan cimin dan cilor dibanding perbedaan jumlah impor Cina-Indonesia dan US-Indonesia.

Monmaap nih ya kalau norak, apalagi buat kelen yang hidupnya di luar negeri. Ya jangan dibandingin hidupmu dengan hidup serbuk micin ini.

Cheers!

Sunday, February 18, 2018

Komunikasi Sains (Lagi)

I hope you guys haven't been tired of me pouring you another what and why science communication, because I'm going to share another one :p.

Tanggal 25 November tahun lalu gw ikutan workshop yang judulnya "Menulis Sains" dari Langit Selatan (LS). Thanks to Benet who informed it to me via Instagram (alhamdulillah IG ada faedahnya). LS sendiri namanya udah mampir di telinga gw ketika masih di Pinteraktif, for all I know that it is a media dedicated to share anything about Astronomy in a pop-science way, dan yang bikin orang ITB. Long story short, meluncurlah gw ke lokasi workshop.

Begitu datang, meski telat 15 menit, gw orang ke-2 yang hadir di ruangan... dari 10 orang saja yang daftar. Gw antara sedih tapi maklum karena pertama topiknya mungkin gak begitu se-ngepop dan familiar kayak misal "workshop bikin IG story kamu gak garing" atau "workshop vlog untuk pemula" atau "cara untung bisnis MLM", kedua ya mungkin nama LS gak menggedor banyak orang. Beda misal yang ngadain dari kampus, atau Kompas. Atau mungkin publikasinya aja yang sengaja gak dibikin gebyar karena ternyata peserta yang hadir pada akhirnya punya waktu untuk beneran dikasih feedback sama pembicara.

The spark in me had already begun when I chatted with two speakers while waiting others to come. Mbak Vivi (Avivah Yamani) yang adalah pengelola LS langsung bilang "Oh kamu temennya Toru sama Kiboy? Yah dunia sempit" pas tahu gw dulu di Pinteraktif. Langsung berasa akrab :)). Di basa-basi itu mereka nanya kenapa tertarik ikut acara ini, gw pun cerita pengalaman kerja dsb, bahkan cerita rencana mau ambil S2 SciComm, sampai Mas Zaid (Muhammad Zaid Wahyudi) ngebuka laman eFishery University yang gw kelola di kantor. "Menarik ini," kata beliau. Dibilang gitu sama wartawan rubrik Sains & Teknologi koran Kompas ya gimana gak seneng.

Sesi workshop pun dimulai.

Mbak Vivi memulai dengan penjelasan tentang komunikasi sains; the what, why, and how in general. Gw lupa deh, apakah di blog ini udah pernah gw share soal why scicomm? Oh udah deng, dengan sudut pandang gw sendiri sih. Kalau menurut Mbak Vivi, yang kemudian gw aminkan, kira-kira seperti ini:



Keliatan gak sih? Ini deh ditulisin:
  • Tanggung jawab ilmuwan
  • Isu penting harus diketahui publik
  • Mempengaruhi pengambil kebijakan
  • Fokus media pada berita cepat
  • Latar belakang yang berbeda membutuhkan pendekatan & mekanisme komunikasi yang berbeda
  • Menegaskan garis batas antara sains dan pseudosains
  • Menginspirasi anak muda untuk menjadi ilmuwan
Mbak Vivi sendiri adalah lulusan S1 dan S2 Astronomi, anak Himastron (Himpunan Mahasiswa Astronomi) ITB yang emang suka nulis juga. Selain poin di atas, hal yang paling bikin gatel Mbak Vivi adalah banyaknya hoax di media berita kita, terutama soal ilmu astronomi. Katakanlah teori bumi datar, isu Mars bakal segede Bulan (serem banget), berita soal jarak terdekat Matahari bikin warga Jakarta lebih agresif, bahkan soal supermoon saja beliau sangat berhati-hati untuk gak membesar-besarkannya like other media did. Mbak Vivi menggunakan science communication untuk melawan hoax.

Pengen sih gw tulis panjang lebar soal poin-poinnya Mbak Vivi itu tapi nanti kepanjangan. Gimana kalau kita simak aja apa yang Greg Foot ceritakan soal kenapa scicomm itu penting. What he delivers are similar with Mbak Vivi's talk:


"To share the wonder of science," he said. Exactly what I wrote in my personal statement for scholarship application :)). Eh btw, Mas Greg ini salah satu science communicator yang namanya cukup "kedengeran", setidaknya di Inggris.

I want to share something my father said as well regarding a science communicator that connects scientist and society. Katanya, kita punya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) tapi gak ada orang profesional yg mempublikasikan jurnal-jurnal penelitian. "Kalaupun ada publikasi, mereka hanya administrasi saja. Bahkan ITB pun gak ada badan khusus yang mempublikasikan penelitian. Bandingkan sama NASA, itu jadi sesuatu yang besar," ujar beliau. Agak diedit dan sensor sana-sini ya soalnya ya Pak Dadang kan kalau ngomong mayan pedes ya sis. Intinya, beliau juga menyayangkan padahal kita punya banyak lembaga-lembaga pendidikan tapi ya sains hanya dikonsumsi di lingkungan mereka sendiri saja. (Mas/Mbak Humas LIPI, mungkin kita bisa ngobrol-ngobrol sambil ngopi?)

Bicara soal pendidikan--balik lagi ke suasana workshop "Menulis Sains"--di sesi kedua yang disampaikan oleh Mas Zaid, beliau punya pendapat sendiri kenapa komunikasi sains ini penting: membangun logika bangsa. Beuh.

Sebagai science journalist, Mas Zaid menggunakan sesinya lebih ke teknis menulis. Katanya, ada 4 hal yang harus dimiliki kalau mau menulis sains, apalagi yang tujuannya untuk inform banyak orang:
  1. Logis, mampu menalar
  2. Skeptik, tidak mudah percaya
  3. Paham teknis
  4. Jujur
Kemudian lanjut ke jenis-jenis tulisan, gimana caranya nulis teras berita, konstruksi 5W1H, nyari ide liputan sains dari berita sehari-hari, sampai akhirnya ke sesi dimana masing-masing peserta mencoba membuat tulisan tentang sains. Kami berlima (iya, pesertanya akhirnya 5 doang yang hadir!) dikasih waktu sejam lalu satu-satu maju untuk jelasin singkat soal tulisannya. Gw, karena antusias dan emang kepepet ada janji jam 6 sore, akhirnya berinisiatif untuk maju pertama. Memang ya, manusia yang suka tidur dan dapat nilai D di kelas kalkulus seperti saya ini bisa berubah jadi ambisius kaya Agnes Mo kalau berhadapan dengan hal yang disukai.

Sesi Mas Zaid soal menulis sains. Ambisius kan aku duduk paling depan. :)) (credit Langit Selatan)

Waktu itu karena lagi rame soal Adam Fabumi, si anak bayi yang meninggal karena komplikasi penyakit langka, gw pun menulis tentang apa di balik sindrom Dandy Walker itu. Feedback Mas Zaid soal tulisan gw adalah katanya ini lebih cocok untuk disimpen di media-media internet. Gw antara skip instruksi tugasnya atau emang kebiasaan bikin artikel buat EU, jadinya emang sengaja dibikin buat digital, plus H1 H2 buat SEO--yang kemudian ini juga dikomen sama beliau kalau jangan terlalu banyak dijeda karena bakal terlalu pendek kalau untuk media koran. Well, memang beda media beda pendekatan. Tapi beliau secara umum suka dengan apa yang gw tulis dan impressed dengan closingnya yang kata dia memberi bekas bagi pembaca. Good to know.

Goal: jadi pembicara untuk komunikasi sains di Indonesia! (credit Langit Selatan)

Setelah gw lalu ada guru-guru SD yang pengen juga bikin sesuatu yang engaging buat muridnya. Satu soal cuaca, satu lagi topiknya tentang lendir paus. Lagi-lagi, karena excited, gw yang biasanya diem kaya kecambah (you should see me in every quarterly meeting at office :p), nyumbang masukan juga yang diamini pembicara. Not gonna lie, it felt good.

Selain itu, hal menarik yang gw ambil dari sesi diskusi langsung tersebut juga adalah caranya Mas Zaid memberikan feedback kepada peserta dengan sabar. Tulisannya ibu-ibu guru itu were not the best I would say, tipe yang bikin urut-urut kepala kalau gw jadi editor. Seperti ketika gw harus meriksa tulisan yang dibuat orang lain, dan ketika gak ketemu sama ekspektasi, lalu gw hanya akan megang kepala dan diam, gak tahu harus gimana. Dari Mas Zaid ini gw belajar gimana mengartikulasi masukan, apalagi terkait tulisan yang beliau sendiri bilang kalau nulis itu kadang adalah soal rasa dan seni. Emang harus pinter aja kaya misal ga bisa tuh ngasih feedback cuma "kayanya lebih enak gini kalimatnya" tapi harus dibikin jelas kaya "anak kalimat ini harus nyambung sama induk kalimat sebelumnya, pakai kata keterangan aja biar bisa disambungin". Note to self, pinter dan sabar.

Segelintir orang-orang yang tertarik scicomm (credit LS)
All to all, gw seneng bisa ikut acara semacam ini. Seneng banget bisa menemukan orang-orang yang berkecimpung di dunia scicomm in real life. Satu pesan dari Mas Zaid soal scicomm: mulai aja sekarang. Teknis bisa dipelajari sambil jalan, yang penting konsisten. *ngomong ke diri sendiri

Terimakasih sudah mengisi bensin untuk membakar semangat komunikasi sains!

Cheers!

Wednesday, November 22, 2017

Berani Ngomong

Apa sih yang pertama kali pertama terpikir ketika denger kata "speak up"?

Meski mungkin sering ketemu di buku-buku berbahasa Inggris, kayanya gw pun baru ngeh ketika ngerjain proyeknya PermataBank di Pinteraktif dulu. Waktu itu topiknya adalah macam-macam kode etik dan dari sekian banyak poin, ada poin "speak up". Kode etik yang dimaksud emang lebih ke praktik pencegahan pencucian uang, penyuapan, dan hal perbankan lainnya. Karyawan diharapkan bisa speak up alias berani ngomong/eskalasi ke tingkat manajer/yang memegang kepentingan kalau-kalau ada kecurangan yang dia lihat.

Jadi, speak up adalah berani ngomong.

Waktu itu gw gak kebayang apa susahnya ngomong kalau ada sesuatu yang aneh terkait transaksi atau tindakan mencurigakan di kantor. "Speak up tuh gimana ya? Apa bukannya tinggal ngomong aja gitu, misal 'pak, kok si ini kemarin saya lihat nerima parsel' ke atasannya?" demikian pikiran lugu gw saat itu.

Little did I know, ternyata speak up adalah sebuah skill tersendiri dan gak gampang dilakukan. Setidaknya buat gw, sang pecinta damai yang menghindari konflik dan kalau ada konflik pun jadinya bara dalam sekam sambil berharap masalahnya hilang secara mejik.

Hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Masalahnya ada di komunikasi gw dengan atasan--yang ternyata bukan cuma gw aja yang merasa, but the whole team, if I must say. Ceritanya panjang banget dan penuh dengan konflik duka lara haha tapi intinya dia (diaaa~) encouraged me to speak up.

"Kalau gak dikasih tahu ke orangnya, ya gak akan selesai masalahnya," demikian dia berucap. Kebiasaan ghibah kan ya, kalau ada gak suka sama orang, ciwik-ciwik ni kemudian berkeluh kesah saja ke sesamanya, kadang malah nambahin bensin. :))

Long story short, gw pun speak up ke atasan. Hal itu akhirnya gw lakukan setelah keengganan sekian lama sampai pada kesadaran ya kalau gak ngomong, it may affect the team's future development. Mungkin speak ini bermanfaat gak cuma untuk kebaikan diri sendiri, tapi juga untuk kebaikan tim, dan kebaikan perusahaan.

Mungkin beda kali ya, "speak up" kaya di perbankan yang gw mention sebelumnya dengan "speak up" soal kerja ke atasan. Ibaratnya, kalo yang "speak up" perbankan gitu kayak ngadu, orangnya mah gak tahu kalau kita ngomongin dia. Kalau "speak up" yang ini kan langsung ngomong "maneh aral, urang teu resep" straight to the person's face. Ada banyak bebannya bagi gw, intinya ya gak enakan aja. Pertama, sekali lagi, gw anaknya gak biasa kasih kritikan dan tidak pandai berargumen face-to-face. Kedua, ini gw ngomong sama atasan. Walaupun secara umur di bawah gw, tapi saya ini berprinsip dimana dia punya kekuasaan disitulah kebenaran berada (naon). Ya intinya gw ini lemah sama orang yang punya otoritas. Lemah sekaligus benci haha karena gw pengen juga sepowerful orang itu.

What I'm trying to say is that speaking up is one of the skills we should have. Ada hal-hal yang harus dilatih ketika mau ngomong, gw harus:
- berani
- jangan takut salah (bedanya sama yang atas apa ya, lol)
- sadar akan konsekuensi (mempertimbangkan kalau gw gak ngomong, dampaknya apa)
- kritis (bagi gw yang mentalnya "yaudahlah" ini tantangan sih), tapi jangan juga clouded by emotion doang, harus bisa include logical reasoning.

Well, mungkin belum seambis Lisa Simpson
Anyway, tadi sempet nyari juga artinya speak up apa. Ternyata sebenernya "speak up" tuh lebih ke speak louder like in "speak up, I can't hear you". Nah, kalau "speak out" itu yang "express one's feelings or opinions frankly and publicly". Tapi gak salah juga sih pake "speak up", hanya saja lebih tepat "speak out".

Demikian. Kalau speak up/out versi temen-temen apa? Share in the comment below and let's share experiences *ala-ala artis yutup.

Cheers!

Tuesday, August 1, 2017

Hello, Real Reggy!

Meskipun hari ini gak berpasangan, aku mau inisiatif sendiri ah nulis tentang salah satu partisipan 31 Hari Menulis ini, sekaligus partner kerja yang duduknya sebelahan. Halo, real Reggy! :))

Pemilik nama akun yang bikin kita bertanya-tanya apakah ada "fake Reggy" ini adalah desainer grafis-nya eFishery sejak Januari (eh apa Desember ya, gy?). Sebelum ketemu orangnya aja, Pak Bos dan Ibu HR sudah diclaimer kalau calon desainer yang baru ini anaknya nyablak dan polos banget. Bener aja. Pas waktu hari pertama dia masuk, setelah sesi sama HR, siangnya doi tiba-tiba nyamperin,

"Kak, aku disuruh duduk deket Kak Hawa, katanya."

Lah, siape nih? Datang-datang bukannya kenalan tapi minta duduk sebelahan. Tapi karena reputasimu udah nyamper duluan jadi aku gak aneh sih, gy. Wqwqwq.

Semenjak itu, aku teracuni dengan kerecehan Reggy yang hqq. Cara ngetik aja kayak langsung terpengaruh gitu kalo ngomongin beliau. Kata Eggy (panggilan sayangnya), "wqwqwq" lebih gampang daripada "wkwkwk" karena w dan q sebelahan. Iyain aja deh. Terus entah karena sehari-harinya bergaul sama dia atau di IG aku emang follow akun macam @komikin_ajah yang banyak kosakata macam "tercyduk", "y x g kuy", inputan kerecehan ala milenial aku jadi banyak.

Layaknya orang-orang kreatif, Reggy juga seolah punya dunia sendiri gitu. Kalau udah pasang earphone, Reggy akan bekerja di realm-nya dia dengan playlist shuffle yang kutebak pasti isinya jarang diganti. Dia juga sering banget menyuarakan apa yang dibacanya karena menurutnya dengan begitu jadi lebih paham. Jadi jangan aneh kalau tiba-tiba dia ngomong sendiri terus ketawa sambil baca sesuatu di layar handphone-nya. Atau misalnya terlibat dalam percakapan tak berfaedah seperti,

Temen ngajak jamaahan: "Reggy, sholat gak?"
Reggy: "Siapa?"

Lah, gimana. :)))

Tapi, meski dengan ke-absurd-annya itu, aku sih respect dan hepi bisa kerja bareng Reggy. Respect karena aku yakin sama skill-nya. Porto-nya bagus, rapi, dan bisa bikin copy yang kadang gak kepikiran tapi on point. Eggy juga kerjanya cepet, dia bakal nanya seperlunya terus sat set sat set jadi deh brosur, logo, infografis, video, template foto. Hasilnya minim revisi karena secara garis besar udah mencakup apa yang diminta.

Kadang, Eggy juga wfh (work from home, one of the advantages working in eFishery :p) mostly karena gak punya baju. Ajaib kan. Tapi beberapa kali juga dia wfh karena butuh stimulasi audio yang maksimal alias pengen bebas dengerin lagu sambil nyanyi-nyanyi. Kalau itu dilakukan di kantor kan nantinya meresahkan warga. Nah, di situ yang aku sama Reggy sangat berbeda. I work best and focus ketika kondisi lingkungan kerja gak ada noise yang mendistraksi, karena dengan begitu aku bisa menyusun ide dan menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan. Sedangkan Reggy butuh musik yang disetel keras biar dia semangat dan fokus kerja. Harus saling pengertian ya, gy, hihi.

Kalau lagi "wfh pagi, cikutra siang" terus pas mau berangkat ke kantor ternyata hujan, suka setor muka dulu doi.
Walaupun berseberangan gitu, sebenernya aku sama dia sama-sama introvert. Siapa yang sangka anak yang keliatannya bocor dan haha-hehe ini adalah seorang introvert? Tapi, memang ternyata kalau dilihat dari sifatnya, Eggy ini introvert. Sama-sama suka bingung dengan keramaian yang asing, lebih baik sendiri daripada harus banyak berinteraksi, tapi kalau udah berinteraksi dengan orang-orang yang nyaman bagi kita, jadi keluarlah asli-aslinya. Kita juga gak masalah dengan kesendirian, karena otak introvert bekerja dengan baik ketika punya banyak waktu dengan dirinya sendiri. Tapi at times pasti butuh masukan dan diskusi sama orang lain yang enak diajak ngobrol juga. Oh, kita juga sama-sama susah mengungkapkan maksud dengan verbal. We introverts speak better without speaking. :p

I can value her juga karena ada sewaktu-waktu gitu yang dia encourage ketika aku ngeluh sesuatu, dia bakal bilang kayak "gak apapa, kak.. kan gini gini gini". Entah karena emang baik atau kebanyakan mantengin videonya Kirana jadi kepengaruh :))). Terus kalau baca tulisan-tulisannya, sebetulnya Eggy juga deep dalam berpikir, tapi ya dengan style-nya yang ringan, seringan uang kertas 500-an jaman dulu. Ampun, gy. :)) 

Real Reggy inu juga adalah artis yang karyanya direpost sama @dagelan, @komikin_ajah, dan bahkan @ridwankamil. Nih salah satu komik yang dia bikin, collab cerita sama aku:




Yang mau minta dibikin-bikinin sama Eggy ini harap mengantri karena orderan sampingannya banyaak, hihi.

Masih banyak sih hal yang bisa di-share kalau ngomongin doi mah. Tapi sekian dan terimakasih dulu deh untuk di postingan ini. Boleh banget berkunjung ke halaman blognya untuk input kerecehan harian Anda, atau cek IG-nya untuk lihat karya-karyanya yang lain.

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day28

Sunday, July 30, 2017

Ke Bandung Planning Gallery, Yuk!

Bandung punya tempat wisata baru lho!

Ada banyak alasan orang wisata ke Bandung. Kuliner, karena ada banyak banget tempat jajanan dengan range harga yang bervariasi, yang semua golongan SES bisa menikmati. Dulu sih nomor 2-nya setelah kuliner biasanya adalah belanja but I'm not sure sekarang emang masih ya? Orang mah sekarang ke Bandung banyak yang wisata ke alam-buatan macam Dusun Bambu, Floating Market, Bird Park, dan sejenisnya. Plus sekarang sih wisata taman kota tematik yang disuburkan kembali oleh pemkot juga jadi salah satu destinasi jalan-jalan favorit.

Kota kuliner, kota belanja, kota wisata-alam-sambil-ngadem, apa lagi ya sebutan untuk Bandung? Kota pendidikan, karena ada banyak perguruan tinggi favorit di kota ini. Kota kreatif, karena ada banyak komunitas kreatif yang isinya generasi muda penuh ide.

Coba kita padukan 3 hal terakhir tadi; antara spot wisata yang digagas pemkot + pendidikan + kreatif, lalu jadi...

... Bandung Planning Gallery!

Foto hasil sendiri masih di hp, mager mindahinnya :p. Foto nu batur heula weh.

Jadi, sesuai namanya, galeri yang digagas Bappelitbang ini isinya adalah informasi perencanaan kota Bandung di masa kini dan masa depan. Lebih dari itu, selain transparansi proyek, galeri ini sih tujuannya mengajak warganya untuk memahami Bandung secara utuh.

Di galeri ini ada ulasan tentang Bandung masa lalu, dari sejarah danau purba sampai masa kemerdekaan. Ada juga kondisi Bandung saat ini, berapa jumlah warga, pembagian kewilayahannya, dan fasilitas kota yang ada. Pengunjung juga bisa cari tahu soal rencana pembangunan transportasi dan aplikasi smart city yang sedang dicanangkan pemerintah, kayak monorel, penyewaan sepeda, Command Center, aplikasi SOS, juga perencanaan Bandung Teknopolis (Silicon Valley-nya Bandung kalo kata Kang Emil mah).

Uniknya, di galeri ini orang gak cuma baca dan lihat-lihat kayak di museum. Kita bisa dengerin audio tiap informasi di layar yang gak perlu pake alat yang disewa-sewa. Tinggal download aplikasinya di Playstore dan scan QR code di layar lewat app itu. Kita juga bisa interaksi/pilih informasi di layar pake touchscreen. Yang lebih seru lagi bisa main dress up jaman Bandung baheula pake teknologi AR (augmented reality). Terus bisa nyobain VR (virtual reality) camera buat experience gimana sih naik monorelnya Bandung nanti.

Suasana BPG

Kang Emil di salah satu pojok BPG
"Kumaha Pak, mabok gak naik monorel pake VR?" saur Kang Ipin.

Galeri ini adalah breakthrough karena ada banyak teknologi "kekinian" untuk menciptakan experience yang beda dari galeri biasa. Lokasinya ada di sebelah Taman Sejarah, Jalan Aceh. Satu komplek sama Balkot. Jadi kalau main ke daerah sana kuy ke BPG. Tanggal 1 Agustus besok adalah peresmiannya oleh Pak Wali, dari situ BPG akan beroperasi Senin - Sabtu jam 9 - 16. Bisa ditengok-tengok sikit bentuknya cem mana di sini dan sini.

Btw, kok promosi sih?

Jelas, karena dibayar. Haha, picik banget kedengerannya. Technically, gw ikut bantuin pengerjaan dari segi konten untuk BPG ini. Jadi, kalau nanti pas di area Smart City dan Urban Mobility, ingat-ingatlah muka saya. Kalau ada yang typo juga harap marahin saya ya--atau desainer yang copas-nya. :p

Proyek ini dikerjain udah dari akhir tahun 2015. Tidak selama itu sih sebenernya karena in the meantime, beberapa waktu sempet ditangguhkan karena satu hal dan lainnya. Alhamdulillah, akhirnya bisa dapat acc Kang Emil untuk launching. Kudos to our one and only boss, Kang Ipin, yang mengumpulkan kami semua untuk jadi tim dan yang berurusan sama dinas-dinas sampai beres.

Nuhun pisan, Kang, udah ngasih kesempatan gabung. Personally mah sangat senang dan bangga sih. Pertama, kerjaan ini adalah something that I love doing; membuat suatu informasi edukatif menjadi menarik untuk dinikmati orang. Kedua, this is a tiny tiny tiny tiny contribution that I can give for my own city. Terimakasih untuk menularkan semangat Bandung Juara with your witty and sharp view.

Segitu dulu pengenalan BPG-nya. Pokoknya, yang baca blogpost ini sampai paragraf terakhir wajib kesana ya!

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day26 

Wednesday, July 26, 2017

Surat Untuk CEO

Wah, Hari Berpasangan di #day22 #31dayswritingchallenge ini kebagian dipasangin sama Gibran. Temen seangkatan, temen sekelas di Biologi Umum 3 (kelas Bu Ayda bukan sih?), dan sehimpunan. Tapi, karena beda jurusan dan jarang interaksi, kadang anak Mikro suka ngeliat anak Biologi sebagai "tetangga sebelah" instead of temen seperjuangan. Mungkin karena itulah si Hawa ini malah asyik di lab, bukannya ikut sibuk di sekre Nymphaea. Haha, ampun, Gib.

Disclaimer dulu, jadi ceritanya di Hari Berpasangan ini tuh aturannya adalah harus menanggapi atau setidaknya terinspirasi tulisan pasangannya. Post yang ini juga dalam rangka Hari Berpasangan, btw, bedanya itu terinspirasi yang sangat implisit, hehe. Karena gak semua blog temen-temen dibaca (maapin), jadinya tadi baca dulu beberapa post yang keskip. To be honest, susah rasanya nanggepin one particular post doang karena ketika baca beberapa post jadinya terbentuk image dari si penulisnya--sehingga justru itu yang gw ambil, inspirasi dari cara pandang si pasangan.

Oops, menurut Gibran di post ini, penggunaan kata ganti "gw" adalah sesuatu yang harusnya ditinggalkan. Makanya, khusus hari ini, kata ganti orang pertama pake "aku" deh. Pake "saya" masih ngerasa getek. :))

Ini yang mau aku highlight sih. Tentang aku menjadi aku, dan Gibran menjadi dirinya.

"Aku" adalah kata ganti pertama yang aku pake secara default ke semua orang, kecuali sama keluarga. Di keluarga, semua orang menyebut dirinya dengan nama. Aku pake "gw-elu" hanya ketika ngomong sama diri sendiri dan sama Vika, sodara beda setahun yang deket banget dari kecil. Aku merasa "gw" sangat cocok dipake ketika ngomongin sesuatu yang sarkas. Ketika pake "aku", rasanya kalau mau marah-marah tuh gak keluar aja gitu. Sedangkan blog bagi aku adalah diary--which I always keep since junior high--yang isinya curahan hati, yang mostly tentu saja adalah obrolan sama diri sendiri. Maka itulah kenapa di blog, dari dulu, aku pake "gw". Aku merasa blog adalah sarana numpahin emosi aja, yang mentah dan meletup-letup. Kesel ya kesel, seneng ya seneng, galau ya galau. Dari dulu berarti belum berubah. :))

Beda sama Gibran. Tulisan blog dia yang dulu mungkin gak beda sama blog aku (yang dari dulu sampe sekarang gak berubah itu). But then I can imagine how he then grew up secara pemikiran, yang bertambah luas horizonnya dengan ketemu orang dan mau gak mau mengasahnya terus-menerus. I mean, Gibran kayaknya emang punya mental leader dari dulu (ketua OSIS, right?). Ketika dia jadi kahim Nymphaea juga udah keliatan jiwa pemimpinnya. Meskipun temen-temennya manggil dia Bancet dan selalu dibecandain, tapi mereka selalu respect sama keputusannya.

Ketika langkah demi langkah membuatnya "besar", Gibran juga paham kalau ide yang dia punya gak cuma buat konsumsi pribadi aja, tapi ada audiens yang baca. Itu, dan ditambah seiring dengan pemikirannya yang makin composed dan (dilatih) tersusun, kayaknya "mengubah" gaya bertuturnya jadi lebih dewasa, "sopan", dan gak jarang bahas sesuatu yang "berat"--karena curhat gak berfaedah tidak lagi menjadi sorotan, kalaupun curhat juga harus substansial.

Intinya sih, aku bisa membayangkan apa yang ada di balik tulisan-tulisan Gibran sekarang. Enak memang baca tulisan dia (di blog atau di status FB); rapi, emosinya composed, dan gagasannya terstruktur. And I'm proud of him yang sekarang sangat dihormati sebagai CEO dan diperhitungkan sebagai entrepreneur. Keren lah Bancet ini--btw kenapa sih dipanggil Bancet, Gib? :))

Can you spot me and Gibran in this photo?

Lalu hubungannya sama aku apa? To be honest, blog bagi aku sekarang "masih" menjadi media perpanjangan emosi dan pikiran yang mentah saja dituang. Kalau lihat isi blog aku mungkin ada yang gak beraturan ideanya, nyampur-nyampur antara English-Indonesia-Sunda, diselipin emoticon, banyak sub-idea--ya seperti itulah yang ada di otak aku. Blog "masih" jadi media untuk aku jujur sama diri sendiri. Kalau ada audiens selain temen-temen sendiri, mungkin bahasa blog ini akan lebih composed. :p

Tapi, pemikiran yang acakadut itu cuma di "dapur"nya aja kok. When I write for work, yang tentu saja ada audiensnya, I write comprehensively. In fact, itu yang aku jual sebagai tukang nulis sih, bagaimana menyampaikan sebuah ide dalam tulisan berupa informasi yang bisa dipahami. Aku pikir semua orang bisa nulis kayak gitu. Memang iya sih, banyak yang bisa nulis bagus. Tapi, pilihan masing-masing menjadikan aku fokus disini dan orang lain fokus di hal lain. Lagipula, ternyata, gak semua orang bisa melakukan apa yang aku lakukan.

Kesimpulannya,

Kita menempuh jalan yang mungkin berbeda, ditempa dengan cobaan terbaik yang Tuhan berikan--karena Tuhan tidak pernah salah memberikan ujian untuk setiap manusia.
Apa yang kita lihat, rasa, pikir, dan lakukan juga tidak sama. Tapi ternyata takdir menempatkan kita di ladang yang sama. Never thought of that!

Dulu kuning Nymphaea, kini toska eFishery

Gabung di eFishery sejujurnya bagi aku adalah sebuah stretching, Gib. Banyak hal yang mengharuskan aku untuk stretch out my comfort zone. Jadi banyak berpikir dan belajar. Yaa dulu pas kuliah juga gitu sih, tapi kan lingkupnya hanya kuliah aja. Sekarang, mungkin karena faktor umur udah lepas beberapa tahun di "rimba kehidupan nyata" setelah lulus, jadi scope "berpikir dan belajar"-nya pada kehidupan secara umum juga.


Wah, kenapa jadi baper ya. Penyakit nih, ah. Apa-apa dikaitin dengan emosi. Hihi.

Demikian surat saya untuk Pak Bos. Semoga kita bisa jadi manusia yang bermanfaat ya, Pak Bos! ;)

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day22

Tuesday, July 18, 2017

Temen kantor resign itu...

...sedih!

Rasanya, mau yang deket atau yang gak begitu deket, ketika ada orang kantor yang resign itu, jadi merasa kehilangan.

Yang kepikiran pertama adalah: kenapa? Apa yang membuatnya meninggalkan tempat ini? What bothers them here? Should I be bothered too by that?

Yang kedua adalah: temen resign itu memberikan sense kalau mereka "bergerak". Padahal timeline orang beda-beda, yang dimaksud "bergerak" juga beda-beda. Tapi ya dengan literally mereka "pindah" ke tempat bukan-di-sini-lagi jadi seolah-olah mereka "going somewhere"--which is both literally and the metaphorical one. To which makes me think; "should I be going somewhere too?"

Ketiga, ini kalau yang deket sih, right when I know the person is going to leave, I instantly imagine the office life without them. Ya ini lah sisi sedihnya dari perpisahan, yang tadinya biasanya ada jadi gak ada. Padahal mungkin bisa-bisa aja hidup normal dengan harus berpisah. Kalo yang ini makes me thinking, "terus nanti kalau mau ini (yang biasa dilakukan sama orangnya), jadi sendirian dong aku?"

Overthinking? Maybe. :p

Tapi, di kasus yang sekarang, plis jangan geer ya, Abdy!

Jadi, hari Jumat kemarin ada temen kantor yang resign. Namanya Abdy. Alias Om Badut. Orangnya absurd, susah serius, mau disuruh-suruh, suka ngambilin perkedelnya Bibi. Kalau booking futsal suka ngaku-ngaku namanya Joni. Kalau bikin password wifi antara "maugakjadipacaraku" atau "akusayangkamu". Sholeh (inisiator sholat ke mesjid) dan nikah muda--yang dari kelakuannya bikin kita mikir jangan-jangan calon mertuanya dulu saking lelah ngadepin si Abdy jadi yaudah deh gitu nikah aja biar cepet urusannya :)))

Ini orangnya nih:


Nih duet Abdy-Iqbal ibarat Andre-Sule/Vincent-Desta/Danang-Darto yang banyolannya ditunggu-tunggu orang. Iqbal (yang kemeja kotak-kotak) juga pasti ngerasa kehilangan. Kalau basa Sundanya mah "euweuh layan". Frekuensi absurdnya sama, tektokan imajinasi drama mendadaknya juga lancar, cem dua orang lagi main pingpong.

But anyway, life goes on. Semoga kita sukses di jalannya masing-masing ya, Abdy dan semua yang udah resign! 'Til we meet again. :)



Cheers!
#31dayswritingchallenge #day14

Saturday, July 15, 2017

Trust me I'm a... science communicator?

So, what is science communication?

Bahasa Indonesianya, scicomm ini adalah komunikasi sains. Sekali lagi, bukan ilmu komunikasi. Mirip? Iya, sure, karena ilmu komunikasi adalah dasar ilmu tentang all kinds of communication, sedangkan komunikasi sains adalah komunikasi yang dikhususkan untuk menjelaskan tentang ilmu pengetahuan.

"Science communication" sendiri adalah sesuatu yang sudah dilakukan dari jaman Galileo. Ketika para cendekia dan ilmuwan menemukan sesuatu, mereka menuliskan dan (beberapa) mempublikasikannya untuk diketahui publik. "Science communication" juga bisa dikatakan kegiatan seorang guru yang mengajarkan science ke muridnya. It is actually nothing extraordinary, because it's something that people do, like entertainment. Gak ada kan yang namanya "entertainment communicator"? Yang ada juga penyanyi, aktor, komedian, vlogger, dsb.

Lalu apa dong istimewanya?

The problem (that I read in many scicomm article) with "science communcation" which scientist do (either scientist-to-scientist or scientist-to-common-people) is that their research findings and journals are not really communicative.


(source)

Yang bisa gw bayangkan adalah; they are highly specific and complex. Di spot inilah kemudian science communication takes place. Bagaimana untuk dengan tepat menyampaikan ilmu tapi dengan cara yang bisa diterima oleh orang lain. Especially to non experts. Ya sama kaya guru ngajar tadi dong? No, I'm talking broad audience here, not just in academic class.

Get it?

Ok, let's see some real examples.

Mengambil analogi "entertainment communicator" tadi yang profesinya ada banyak, begitu juga dengan "science communicator". Ada beberapa profesi dan bentuk komunikasi. Artikel sains populer, dokumenter-dokumenternya BBC Knowledge dan National Geographic, pameran teknologi, sampai museum pun adalah bentuk komunikasi sains. Bahkan, di Youtube aja banyaak banget channel konten edukasi yang dikemas pop and very entertaining. Sebut aja ASAP Science, VSauce, TedEd, well kebanyakan memang dari Amrik sana, tapi produk lokal juga ada. The one that is growing nicely is Kok Bisa, although it not always presents science.

Kebanyakan konten sains gitu targetnya adalah anak-anak. Contohnya kayak acara "eksperimen kimia" di TVRI, atau yang agak up to date sekarang sih acara Laptop Si Unyil di Trans7. Pertanyaannya, kenapa (di Indonesia) gak ada konten serupa yang targetnya orang dewasa seperti konten-konten di channel Youtube tadi? Apakah ada semacam science magazine, science channel, atau science fair yang banyak diminati di Indonesia? As far as I know, kalau bicara soal itu, I feel like I'm looking on a lonely path. Semacam mall ruko yang sepi pengunjung, yang toko yang buka hanya beberapa, dan tampilannya usang.

That is what I aim for. I'm longing for, to be exact. Gw penasaran. Baik dengan diri sendiri maupun dengan scicomm di Indonesia. Penasaran ke diri sendiri karena pengen tahu skill apa yang bisa gw develop dalam scicomm ini. Penasaran yang kedua karena gw pengen tahu gimana sih kira-kira kondisi scicomm Indonesia: "gak penting", "belum siap", atau justru potensial? Ranah mana yang bisa ditarget, apa bentuk yang paling relatable?

Bahas "what" udah, lalu "who"? Siapa orang yang ngerjain scicomm emangnya?

Neil deGrasse Tyson dan Bill Nye adalah 2 sosok terkenal dunia as known as "the science guy" (which some of you may know them from memes--sepop itu mereka sampai bisa jadi meme, cool).


Bill Nye and Neil deGrasee Tyson

Favorit gw adalah Brian Cox, presenter dokumenter BBC Knowledge (and also the physicist behind it). I always get fascinated by the way he explains physic, so serene--it's like the breathtaking feeling when we see a beautiful view from a mountain top.


Brian Cox. He's handsome, don't you think? ;p

Lagi-lagi ya, gw selalu amazed by science. Tapi udah gitu aja, gak mau lihat dapur, haha. I'd say: science is pretty on the outside but ugly in the inside.

"...many people say that science communication is a soft option, the easy alternative for those who can’t hack the daily grind of research."

Haha, true. Trait "gak mau susah" gw strikes again. Let's get a bit personal bentar. Dulu pas milih jurusan juga bukan "salah jurusan", gw dengan kesadaran penuh memilih Mikrobiologi karena gw lebih suka ngintipin mikroba lewat mikroskop daripada harus ngebedah mencit memang suka ilmunya. Tapi kemudian diuji susah di TA, lalu gw pundung. Gw takutnya scicomm ini terulang lagi. But, things have changed. Kuncinya mungkin adalah di tujuannya; jangan mulai sesuatu hanya untuk benefit sendiri, tapi fokus di gimana kapabilitas gw bisa bawa manfaat untuk orang lain juga.

Kalau mau nyambung sama S2 atau kerjaan, inilah yang gw cari sekarang. Hal yang patut gw syukuri juga adalah pekerjaan gw sekarang mengarah kesana. It's not exactly what I want but then again reality is never perfect. But with all SIAR (Seri Informasi Akuakultur) that I manage and eFishery University that I'm working on, it's a pretty nice start.

Ke depannya, tentu, gw masih penasaran untuk melihat scope of view dan kesempatan yang lebih besar lagi dari ini. Semoga bisa.

By the way, if any of you know more or simply have another point of view on this, just let me know ya. Kalau ada yang menawarkan gw kesempatan kerjasama atau kerjaan juga boleh banget. ;)

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day11

Friday, July 14, 2017

Trust me I was a microbiologist

Kenapa lulusan Mikrobiologi kerja di bidang tulis-menulis, konten, teknologi, dan marketing?

The answer is because I hate lab research.
Haha, gitu doang. Eh, maap Pak Bu dosen.

Don't get me wrong. I do love microbiology science, but when it comes to wet lab research, rasanya ada skill yang gak ada di gw--skill yang seharusnya dimiliki oleh scientist. My final research was kinda proof it with the lost-count failures. Pengen nangis rasanya ketika gw berusaha bikin tempe for like months, itu kedele ya kedele aja gitu, berserakan dengan hifa yang menggumpal di beberapa spot. Meanwhile, adek tingkat gw 2x percobaan saja terciptalah tempe layaknya karya mang-mang di pasar. I've tried other ways and tweaked some loose chains tapi bentuk tempe pasar tetap tidak bisa diraih. Although, in the end, riset TA kemarin tidak berakhir buruk kok. Tauco bikinan gw masih ada loh sampai sekarang, gak busuk-busuk di kulkas. Padahal udah 5 tahunan (ketahuan deh angkatannya).


A lil bit of NaCl, a lil bit of potato dextrose, a pinch of microbes, stir it, and voila, you're a scientist!

Setelah itu, I took a break and thought that maybe there was another option for me beside lab research to make a living.

Dulu, angkatan gw bikin acara pameran makanan fermentasi and it was one of the happiest moments in my life karena so excited ketika gw harus menerangkan ke orang-orang gimana bikin nata (yang kaya nata de coco) tapi dari kulit pisang. Dan ke-curiosity-annya resiprokal, dalam artian mereka juga excited to know more about nata de banana itu. Acaranya waktu lively banget (untuk ukuran pameran sebuah praktikum mata kuliah ya) dan capeknya capek nikmat.

Lalu gw pun kontemplasi, apa ya yang sebetulnya I enjoy doing? Writing was the answer. Human-centered and story type of writing is something that I have spark on.

Sehingga kalo gw runut, dari pekerjaan gw pertama (include each project in it) dan pekerjaan-pekerjaan samping lainnya, sampai sekarang, benang merahnya adalah produksi konten untuk memudahkan orang memahami sesuatu. That is one of the things I'm grateful for because apparently my job is somewhat consistent. I think that is something you can sell and show them that you're really into it. Sekaligus juga menumpuk jam terbang di bidang yang sama.

And somewhere in 2015, I started to put those puzzles:

  1. I am fascinated by science but I hate the dirty work.
  2. I love (story) writing.
  3. I like presenting something to people.
  4. All my job is pretty consistent in content production.

Sehingga ketika gw (yang sebetulnya sedang dalam pencarian jurusan buat S2 juga) menemukan something that called "science communication", gw berasa ketemu jodoh.

Apa sih science communication? Ilmu komunikasi? Bukan, itu mah communication science. Banyak yang salah paham sih emang. Google aja suka ketuker-tuker. Lalu apa?

Karena sudah malam ikan harus bobok dan kayaknya butuh post khusus yang jelasin si scicomm ini,  I'll continue tomorrow ya!

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day10