Friday, January 9, 2015

Gemuruh Rindu

Myra membuka jendela dan udara dingin langsung menyergap. Embun yang menggantung sisa hujan tadi malam bercampur dengan aroma pagi lainnya. Pandangan Myra menerawang jauh pada cahaya di timur sana yang menyelinap pelan-pelan di antara awan tipis.

Semalam kau hadir dalam mimpiku, menjadi bintang utama dalam bunga tidurku. Entah ini yang keberapa kalinya kau ada disana, melakukan hal manis sesuai dengan skenario emosiku. Karena hanya dalam mimpi lah aku bisa bersamamu, menyentuhmu, dan melepas segala rindu.

Maka ketika aku terbangun sendiri, aku memejamkan mata kuat-kuat agar kau kembali... namun tak peduli seberapa kuat hatiku berteriak, kau tak akan kembali, kau tak berada disini, dan aku harus mengarungi arus waktu hidupku lagi.

Kau dan gemuruh rindu yang menyesakkan.

Ting!
Suara dari handphone memecah lamunan Myra.

Myr, hari ini jadi kan?

Jari-jari panjang Myra dengan cepat membalas pesan itu.

Jadi. Aku siap-siap dulu, ya.

Sang fajar menggeliat dan menyeruak di setiap sekat bumi, menjadi semacam pertanda untuk manusia untuk memulai kembali ritme kehidupannya.

No comments:

Post a Comment