Friday, July 28, 2017

Fav War Drama: Atonement

If you find a movie that includes:
  • World War (preferably II) setting
  • British setting
  • Based on true events
  • Tragic story
  • Benedict Cumberbatch
Then count me in. Or just let me watch it and let it consumes me for a couple of weeks. :p

Given the list, I can say that Atonement is one of my favorite movies. It's a fiction based on a novel with the same title, a war drama that is clearly inspired by the WW II as a background setting. This British movie casts my sherlockbaby Benedict Cumberbatch (not as a main character though) and is a tragic story. Plus, its amazing music background or "score" adds the melancholia which I always feel everytime I listen to it now.


Set in 1930 countryside of England, the story tells moments of misunderstanding around Cecilia, Briony, and Robbie. Cecilia and Briony are sisters from a wealthy family while Robbie is the housekeeper's son. Cecilia "Cee" and Robbie apparently attracts to each other and the innocent 13yo little sister feel kind of "alarmed" because Robbie has always been a nice person to Briony.

One time, Robbie wanted to send an apology letter because in the earlier noon, he broke a vase which then made Cee had to dive in a pond to find the piece. This broken vase scene was also the key because when Cee jumped out the pond, her clothes were all wet and Robbie just stood there watching her, intrigued by her look--and those were witnessed by Briony from a far. Consumed by lust after that moment, Robbie wrote a letter with a "sexual content" but then he put aside and started to write a formal one. Robbie then asked Briony to hand it to Cee.

Unfortunately, the letter was the first one. To make it worse, Briony read it, which made her more disturbed. Later that night, when the family had dinner together, Cee and Robbie finally confessed to each other and made love in Cee's house library. Again, out of curiosity, Briony trailed Cee's fallen earring and eventually found them in the library. Gosh, talking about personal space, Briony!

Cecilia, Briony, and Robbie
By witnessing their "romance activity", Briony was more convinced that Robbie was a "sex maniac harrasing her sister". In the middle of dinner, Briony's twin cousin gone missing and everybody searched for them, including the three. Briony then saw a man assaulting her other cousin and told everyone that it was Robbie who did it (while Robbie was the one who found the twin cousin who were gone missing). She showed the wrong letter to the police, as a proof that Robbie was always such a "bad guy".

Long story short, Robbie was put in jail and he decided to join the British army in order to got out of jail. Cee and Robbie met once before Robbie went to war and promised each other to wait and come back to build a life together. Can they fulfill their promises?

----

Just when after Robbie got into prison, the story became tragic because it shows how Cee, Robbie, and Briony lived their own lives, separated from each other. Of how Cee was devastated and never talked to her family after the dinner. Of how Robbie suffered emotional and physical pain during the war. Especially, of how Briony was filled with regret because she accused Robbie for a crime he didn't do.

The ending was quite a plot twist. I love it.

Atonement's score is all instrumental, I thought it would be suitable to be listened to while working but turns out I get so emotional and imagine the scenes instead. The sound of violin, piano, and a choir creates eerily beautiful tunes. The composer won an award for the score, though. Well deserved.



Well, if you like the war drama, especially set in British during WWII, this movie is a must-watch. I'm also gonna buy the book next month! Yay, so excited! If you guys have another recommendation on this genre, please let me know. ;)

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day24

Thursday, July 27, 2017

Kopi-kopian

Kalian #teamkopi atau #teamteh?

Dulu, tentu saja teh lebih jadi favorit kalau disuruh milih antara teh atau kopi. Teh bisa dikonsumsi dari jaman bocah, jadinya pasti lebih wajar untuk jadi beverage, sewajar air putih. Teh botol, es teh manis juga emang udah populer jadi minuman pelepas dahaga kalau lagi siang-siang panas atau sebagai penutup setelah makan. Jarang kan orang haus terus pengen kopi.

Ketika kemudian di buffet-buffet hotel/seminar gitu ngeliat kopi, rasanya kabita gitu sama warna dan harumnya yang seksi. Kesannya dewasa banget cuy minum kopi. Gw pun cuma ngelirik iri aja sambil ngaduk teh manis. Selain karena gak biasa, ternyata (dulu) gw selalu deg-degan setiap nyobain minum kopi. In fact sebenernya dulu rasanya gw sering deg-degan tiba-tiba, atau bahasa kedokterannya (kata si mantan, cnah) palpitasi. Gw takut ada apa-apa gitu sama jantung. Tapi alhamdulillah sih sekarang udah nggak.

Sehingga ketika akhirnya nyobain minum kopi lagi, gak deg-degan dan bisa enjoy, asik! Lupa deh kopi jenis apa yang diminum pertama waktu itu. Yaa, gak jauh lah kayaknya dari kopi Goodday. Entah kesambet apa lalu akhirnya jadi doyan kopi deh akhir-akhir ini, rasanya gak lebih dari 2 tahun yang lalu.

Ngopi @ Spiegel Bar & Bistro, Semarang, sambil nunggu kereta pulang

Tapi, memang bukan kopi addict sejati yang tahu jenis kopi dari aromanya, yang ngerti banget bedanya robusta sama arabika--sampe efeknya kalau diproses pake V60, Vietnam drip, French press, atau tubruk--dan yang "cannot function before coffee" di pagi hari.

Kopi-kopian gw rangenya caffe latte/cappucino, Nescafe (instant bubuk, current fav), dan kopi susu ala Vietnam drip.


Caffe latte @ Dapur Eyang, Tubagus Ismail

Goodday dan kopi lucu ala Starbucks buat gw terlalu manis dan gak berasa kopinya. Kopi item tubruk yang pernah gw cobain adalah kopi Kapal Api. Duh, wangi sih itu, tapi ampasnya balaaaa.. dan pait (you don't say).


Sok-sokan bikin kopi Kapal Api tubruk di rumah

Sesekali juga nyobain kopi yang di-grind langsung sama barista kantor, tapi tetep gak paham enaknya kalau gak ditambah gula dan susu mah haha cupu. Kata temen-temen penikmat kopi mah "enak ini asemnya pas" atau "hmm, berasa rasa kacangnya". Tapi bagi gw mah pas udah nyeruput sekali, mikir, terus diam-diam nambahin "aksesoris" :))). Belum sih rasanya berani menjamah espresso atau ala-ala americano gitu yang pure coffee.

Entah sugesti atau apa, sekarang jadi berasa pengen kopi gitu tiap pergi kemana. Emang sih jadi ada rasa gimana gitu setelah minum kopi. Ada kick yang beda dibanding minum teh. Padahal gak jadi super melek juga. Kopi kopi, tunduh tunduh. Alias minum gak minum kopi, kalau ngantuk mah ya ngantuk aja.

Setidaknya sekarang kalau ke seminar/buffet atau ketika ke coffee shop gitu, gw bisa sok keren ngambil kopi, hihi.

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day23

Wednesday, July 26, 2017

Surat Untuk CEO

Wah, Hari Berpasangan di #day22 #31dayswritingchallenge ini kebagian dipasangin sama Gibran. Temen seangkatan, temen sekelas di Biologi Umum 3 (kelas Bu Ayda bukan sih?), dan sehimpunan. Tapi, karena beda jurusan dan jarang interaksi, kadang anak Mikro suka ngeliat anak Biologi sebagai "tetangga sebelah" instead of temen seperjuangan. Mungkin karena itulah si Hawa ini malah asyik di lab, bukannya ikut sibuk di sekre Nymphaea. Haha, ampun, Gib.

Disclaimer dulu, jadi ceritanya di Hari Berpasangan ini tuh aturannya adalah harus menanggapi atau setidaknya terinspirasi tulisan pasangannya. Post yang ini juga dalam rangka Hari Berpasangan, btw, bedanya itu terinspirasi yang sangat implisit, hehe. Karena gak semua blog temen-temen dibaca (maapin), jadinya tadi baca dulu beberapa post yang keskip. To be honest, susah rasanya nanggepin one particular post doang karena ketika baca beberapa post jadinya terbentuk image dari si penulisnya--sehingga justru itu yang gw ambil, inspirasi dari cara pandang si pasangan.

Oops, menurut Gibran di post ini, penggunaan kata ganti "gw" adalah sesuatu yang harusnya ditinggalkan. Makanya, khusus hari ini, kata ganti orang pertama pake "aku" deh. Pake "saya" masih ngerasa getek. :))

Ini yang mau aku highlight sih. Tentang aku menjadi aku, dan Gibran menjadi dirinya.

"Aku" adalah kata ganti pertama yang aku pake secara default ke semua orang, kecuali sama keluarga. Di keluarga, semua orang menyebut dirinya dengan nama. Aku pake "gw-elu" hanya ketika ngomong sama diri sendiri dan sama Vika, sodara beda setahun yang deket banget dari kecil. Aku merasa "gw" sangat cocok dipake ketika ngomongin sesuatu yang sarkas. Ketika pake "aku", rasanya kalau mau marah-marah tuh gak keluar aja gitu. Sedangkan blog bagi aku adalah diary--which I always keep since junior high--yang isinya curahan hati, yang mostly tentu saja adalah obrolan sama diri sendiri. Maka itulah kenapa di blog, dari dulu, aku pake "gw". Aku merasa blog adalah sarana numpahin emosi aja, yang mentah dan meletup-letup. Kesel ya kesel, seneng ya seneng, galau ya galau. Dari dulu berarti belum berubah. :))

Beda sama Gibran. Tulisan blog dia yang dulu mungkin gak beda sama blog aku (yang dari dulu sampe sekarang gak berubah itu). But then I can imagine how he then grew up secara pemikiran, yang bertambah luas horizonnya dengan ketemu orang dan mau gak mau mengasahnya terus-menerus. I mean, Gibran kayaknya emang punya mental leader dari dulu (ketua OSIS, right?). Ketika dia jadi kahim Nymphaea juga udah keliatan jiwa pemimpinnya. Meskipun temen-temennya manggil dia Bancet dan selalu dibecandain, tapi mereka selalu respect sama keputusannya.

Ketika langkah demi langkah membuatnya "besar", Gibran juga paham kalau ide yang dia punya gak cuma buat konsumsi pribadi aja, tapi ada audiens yang baca. Itu, dan ditambah seiring dengan pemikirannya yang makin composed dan (dilatih) tersusun, kayaknya "mengubah" gaya bertuturnya jadi lebih dewasa, "sopan", dan gak jarang bahas sesuatu yang "berat"--karena curhat gak berfaedah tidak lagi menjadi sorotan, kalaupun curhat juga harus substansial.

Intinya sih, aku bisa membayangkan apa yang ada di balik tulisan-tulisan Gibran sekarang. Enak memang baca tulisan dia (di blog atau di status FB); rapi, emosinya composed, dan gagasannya terstruktur. And I'm proud of him yang sekarang sangat dihormati sebagai CEO dan diperhitungkan sebagai entrepreneur. Keren lah Bancet ini--btw kenapa sih dipanggil Bancet, Gib? :))

Can you spot me and Gibran in this photo?

Lalu hubungannya sama aku apa? To be honest, blog bagi aku sekarang "masih" menjadi media perpanjangan emosi dan pikiran yang mentah saja dituang. Kalau lihat isi blog aku mungkin ada yang gak beraturan ideanya, nyampur-nyampur antara English-Indonesia-Sunda, diselipin emoticon, banyak sub-idea--ya seperti itulah yang ada di otak aku. Blog "masih" jadi media untuk aku jujur sama diri sendiri. Kalau ada audiens selain temen-temen sendiri, mungkin bahasa blog ini akan lebih composed. :p

Tapi, pemikiran yang acakadut itu cuma di "dapur"nya aja kok. When I write for work, yang tentu saja ada audiensnya, I write comprehensively. In fact, itu yang aku jual sebagai tukang nulis sih, bagaimana menyampaikan sebuah ide dalam tulisan berupa informasi yang bisa dipahami. Aku pikir semua orang bisa nulis kayak gitu. Memang iya sih, banyak yang bisa nulis bagus. Tapi, pilihan masing-masing menjadikan aku fokus disini dan orang lain fokus di hal lain. Lagipula, ternyata, gak semua orang bisa melakukan apa yang aku lakukan.

Kesimpulannya,

Kita menempuh jalan yang mungkin berbeda, ditempa dengan cobaan terbaik yang Tuhan berikan--karena Tuhan tidak pernah salah memberikan ujian untuk setiap manusia.
Apa yang kita lihat, rasa, pikir, dan lakukan juga tidak sama. Tapi ternyata takdir menempatkan kita di ladang yang sama. Never thought of that!

Dulu kuning Nymphaea, kini toska eFishery

Gabung di eFishery sejujurnya bagi aku adalah sebuah stretching, Gib. Banyak hal yang mengharuskan aku untuk stretch out my comfort zone. Jadi banyak berpikir dan belajar. Yaa dulu pas kuliah juga gitu sih, tapi kan lingkupnya hanya kuliah aja. Sekarang, mungkin karena faktor umur udah lepas beberapa tahun di "rimba kehidupan nyata" setelah lulus, jadi scope "berpikir dan belajar"-nya pada kehidupan secara umum juga.


Wah, kenapa jadi baper ya. Penyakit nih, ah. Apa-apa dikaitin dengan emosi. Hihi.

Demikian surat saya untuk Pak Bos. Semoga kita bisa jadi manusia yang bermanfaat ya, Pak Bos! ;)

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day22

Tuesday, July 25, 2017

Bahasa Cinta

Rindu yang tersesat dalam kata, menemukan muaranya dalam sentuhan.
Diam yang dipahami berdua, bersepakat dalam degupan.
Aku melihat diriku dalam wujudmu, dalam lembah memori yang perlahan-lahan kau sibak.
Mencoba berkaca pada cerukmu di tepian semak.

Dengan bola mata, cinta bertutur.
Tentang hantu masa lalu yang bertalu-talu menderaskan guntur.
Tentang angan masa depan yang takut akan gugur.
Bergemuruh asa dan bertarung logika, demi jalinan yang jujur.

Senja mengecup langit yang sedetik kemudian merona jingga.
Merah menyemburat malu-malu sekaligus berani menampakkan rona.
Direngkuhnya awan, yang menghempas lembut, terjatuh dengan sukarela.
Kau bertanya, apakah aku bahagia?

Pada senyum yang memeluk nyaman, kita menemukan jawaban.
---

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day21

Monday, July 24, 2017

Pulang

Dalam semu kurasa sepi. Terkunci sebuah rasa yang tak tahu bagaimana caranya berinteraksi. Dalam aksara kusimpan langit. Sendu seperti senja yang lama-lama menggelap seiring perjalanan kita. Dalam ketiadaanmu, kutemukan garis senyum itu, merasuk pada setiap sudut imaji.

Tak tahu aku dimana harus berdiri. Atau duduk. Semuanya terasa tak pantas. Tak paham aku bermain cinta. Atau emosi. Semuanya terasa berdesak-desakan tanpa arah. Dan mata ini masih menangkap cahaya untuk dapat kunikmati dalam diam.


--

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day20