Friday, July 13, 2018

Fatherly Love (1)

Hey, hey, hey.

Gila udah lama rasanya gw gak nulis, dan baca. Bisa hilang akal lama-lama. Like, literally lose my mind. I can rambling about how my current work state somehow makes me like this and write an essay about it but not tonight.

Kita review buku dan film, yuk!

Sebagai bagian dari pengobatan hilang akal, gw pun harus kembali berteman dengan buku. Diambillah sebuah buku yang sudah lama antri di to-read-list di rak buku. Buku itu adalah Terima Kasih Bapak yang ditulis oleh temen gw sendiri, Yosay.


(Not so) fun fact: gw udah beli buku ini kayak 2 bulanan yang lalu (gak lama setelah launch di tobuk Indonesia) tapi gak dibaca-baca karena alasan emosional. Iya maapin aku anaknya baperan. :))

Dari judulnya, kita bisa menebak apa intisari bukunya bukan? Tentu saja bukan tentang mejik Alohomora dengan anjing berkepala tiga, atau romansa hari Sabtu di lapangan basket bersama kakak kelas. Yosay herself wanted it to be straightforward, just like when she asked me in choosing its title. I was suggesting some kinds like "Dasi Bapak", "Bapak, Jalan Yuk!" and other metaphorical title but she was like: "aku sih pengen yang langsung to the point aja mengungkapkan rasa terima kasih buat bapak". Maka, jadilah buku yang berisi daftar nasihat bapak(nya Yosay) yang menginspirasi hidupnya.

Sedikitnya gw tahu hubungan mesra Yosay dengan bapaknya, and such a great influence he is to her. I was emotional because I don't have that kind of relationship. I was afraid of comparing my father to her, of how her father did something that mine didn't--you know, that kind of stuff. There was a little bit anger (or envy?) as well, to be honest.

So I gave myself time, quite a long. Gw inget ada beberapa kejadian semenjak gw beli buku itu yang bikin mikir soal orangtua, dan long story short, akhirnya gw pun "siap" untuk baca. Padahal bukunya tipis dengan font berukuran besar, porsi yang cukup dihabiskan dalam satu kali perjalanan kereta Jakarta - Bandung. Emang lebay aja lu, wa. :)))

Dengan gw yang sudah meditasi sebelumnya, maka gw pun bisa melihat dengan objektif saja tentang bukunya. Congrats and well done, Say. Nulis buku ini adalah salah satu dari keberanian kamu yang macem-macem bentuknya. Isinya sangat Yosay sih sebetulnya, ibarat lagi baca blognya.

Ada 12 bab disuguhkan Yosay yang masing-masingnya memuat kisah inspiratif dari sang Bapak yang kemudian membekas di benak Yosay kecil sampai sekarang dewasa. Nilai-nilai baik seperti toleransi, kerja keras, tanggung jawab, gemar belajar, sampai bahkan soal kebangsaan diselipkan di setiap percakapan ayah-anak tersebut. Bapaknya menjadi teladan yang figurnya sangat kuat bagi Yosay sehingga semua tindakan, pikiran, ucapan Yosay sebagai anak pertama berkiblat pada sosok Bapak.


Di setiap babnya gw menemukan esensinya masing-masing dan memang sesuatu yang patut diresapi. Bagi gw pribadi, hal-hal tersebut adalah pengingat bagi diri sendiri sebagai manusia dan juga sebagai calon orangtua kalau nanti dipercaya punya anak. Untungnya, pikiran "yah tapi kan bokap gw gak kayak gini" mulai menepi walau masih mengintip dari sudut batin. Intinya, bukan untuk membandingkan lagi, tapi gw bacanya sebagai pembelajaran.

Gw pun berpikir bahwa sejatinya semua orangtua mencintai kita sebagai anaknya, hanya saja caranya berbeda-beda. Gw yakin bapak gw pun sama cintanya, tapi sayangnya pola komunikasi yang tidak terbentuk dengan baik menghambat kemesraan dan nilai-nilai hidup yang perlu diturunkan. Tapiii, that doesn't mean I can't learn something from him because I do learn a lot. And I feel grateful for that.

Lucunya, gw tidak sendiri dalam struggle baca buku ini sebetulnya, hehe. Tapi kalau kalian gak aneh kayak gw dan butuh bacaan inspiratif, it is nice to peek a glimpse of how fatherly love shape the mind of a bright daughter. Pick a value and try to contemplate it in an aspect of your life.

Nah, ini ibarat semesta mendukung banget sih. Jadi setelah gw baca buku itu, selang beberapa waktu, gw nonton The Judge. Pemain utamanya Iron Man (please, RDJ itu terlahir untuk memerankan Tony Stark!) dan katanya film ini masuk kategori award something. Inti ceritanya menarasikan hubungan ayah dengan anak laki-lakinya yang tidak harmonis, dan bagaimana keduanya menghadapi hal itu dengan pergumulan batin masing-masing. Karena baru aja kemarin malem diberesin filmnya--iya, nontonnya kebagi dua sesi gitu--jadi rasanya pengen gw ceritain di sini. Tapi panjang banget yak untuk post ini.

Baik pemirsa. Waktunya break dulu ya. Go take a bath or have your meal. Kita lanjutkan setelah pariwara berikut.

Cheers!

Monday, March 12, 2018

Merasa Penting itu Penting

Quick post di sela-sela gelisah karena application deadline just around the corner!

Lagi cari referensi untuk bikin esai lalu stumbled on this writing. I wrote it for Chevening scholarship application in, I dunno, 2015? Lost count. Kalau gak salah waktu itu pertanyaanya kayak "apa arti leadership buat kamu?".

Looking this essay I remembered he asked me one day, what quality did I gain from Pinteraktif, what an added value I have obtained. Waktu itu topik awalnya adalah soal gaji, kemudian dia sih lebih emphasize di value aja ketimbang duit. I answered something about leadership but I didn't recall exactly the detail. Ternyata jawabannya ada di esai ini:


I used to think that the word “leadership” solely means “to lead”. In that case, “leading” implies on bravely standing up for others and taking blames when something goes wrong. Perhaps that was the reason I never wanted to become a leader. It seemed all responsibilities will be on me. However, as I grew up and experienced challenges, I figured out that leadership values are not only built on responsibility but also other important qualities such as communication, strategy, teamwork, passion, and integrity.

It came to a realization that I have been applying these values throughout the three years of my professional life. As an instructional designer, I created a learning framework which was then discussed with clients who were experts on the learning subject. Inevitably, disagreements occurred at some points. To get it off the table, I objectively reminded the initial goal so that a consensus can eventually be reached. Similar communication strategy was relevant to internal team as well. In order to perform smooth teamwork, I made different approaches for every unit so they got clear instruction on what to do.

Beyond my job routine, I have also been engaging in a city project. The project requires a content team to transform mundane data sheet into interactive displays. I have a significant role in the team by designing a workflow content production. This is important because it is used to point out timeline and output. To contribute in a city project is surely not a minor duty. I challenged myself to join because I knew the project involves public engagement which I passionate about. Involved in both occupations also strengthen my integrity that without which any activities would be meaningless.
I now understand that although leadership requires a lot of work, it is rewarding. Leadership is not all about being in the front but it is more about creating positive influence driven by passion.

Good ol' times. :p

It leads me to think that somehow I was happier and more fulfilled back then. Aku bukannya gak bersyukur dengan keadaan sekarang sih. The unpleasant events in work are also a blessing which I've been learning from to this day. Proses stretching emang gak enak.

Then it reminds to a conversation I had with Mei couple days ago. Setelah cerita kehidupan masing-masing, sampai lah pada pembicaraan yang disepakati bersama bahwa "merasa penting itu penting". Bukan yang gila hormat dan haus perhatian, tapi menurutku pengakuan dan validasi adalah hal yang manusiawi, sepanjang dalam batas wajar. Ini konsep yang ada dimana-mana, dari bidang pendidikan sampe marketing. Kalau kamu dihargai, kamu akan memberikan lebih. Dan ketika kamu memberi lebih, kamu akan lebih dihargai.

Segitu dulu kontemplasi singkat malam ini.



Itung-itung sharing juga bentuk esai yang diminta kalau daftar-daftar beasiswa, hehe. Kalau ada yang salah silakan koreksi ya.

Cheers!

Saturday, February 24, 2018

Catatan Perjalanan Si Serbuk Micin

"Up to you. You're the boss," ujar seorang pria tengah baya asal Bangladesh, ramah setelah menenggak sirup jeruk botolan di depan minimarket 3 warna.

Saya, sebagai tokoh yang terbiasa mengambil peran remah-remah gurilem seribuan, langsung gelagapan sekaligus menampar (dalam pikiran) diri sendiri untuk jadi kuat karena toh memang sayalah yang harus bertanggung jawab. Siapa sangka, orang yang selalu merasa kecil dan berada di balik layar ini jadi orang yang menentukan waktu dan lokasi makan siang untuk orang Bangladesh di suatu daerah di Kabupaten Subang.

Gimana lagi kan (ter-teppy nih pake meme qasidah)
Jadi ceritanya 3 hari kemaren gw ditumbalin dapet tugas nemenin konsultan yang ditunjuk investor untuk menilai bisnis eFishery. Memang simply karena gak ada orang lain aja sih yang bisa (karena sibuk dan kendala bahasa), jadinya seorang content marketing officer dioper ke depan. Gw sebagai LO pun nemenin bapak-bapak Bangladesh ini ke kantor, warehouse, dan petani eFishery.

To give you some context, penunjukan gw sebagai LO ini ibarat Bibi (yang suka masakin makan siang di kantor) disuruh ikut quarterly meeting. Eh tapi jangankan Bibi, gw aja sebagai karyawan sering bengong :))). Pertama, walaupun iya sih udah beberapa kali kunjungan ke petani, tapi masih keitung jarang dan itu pun judulnya nebeng agenda. Kedua, ini kan investor--kan gak mungkin ya mereka nanya hal-hal ringan kaya kenapa tahu bulat digoreng dadakan. Ketiga, gw di-assign sendiri, Boi, sendiri! Oh iya, keempat, rencananya bahkan mau roadshow ke Pantura ngunjungin 3 petani di 3 lokasi berbeda. Si serbuk micin, sendiri, nemenin investor dari Bangladesh, keliling Pantura. Lempar saja aku ke kandang buaya, mz.

As it turned out, ternyata gak semengerikan yang dibayangkan. Akhirnya ada 2 orang yang nemenin di 2 hari berbeda. Pun, akhirnya visit petani cuma di 1 lokasi aja. Misuh-misuh selesai.

Apa yang mau gw highlight disini sih lebih ke pengalaman berkomunikasi dengan mereka. Sebut saja bapak-bapak Bangla ini K dan J. Hari pertama gw mules, hari kedua masih mules, hari ketiga juga mules. Intinya nemenin K dan J ini bikin pencernaan gak beres. Well, hari pertama was kinda shocking karena tentu saja yang namanya pertama suka ada efek kejut. Gw harus terbiasa dengerin English dengan aksen ala India dan frustasi ketika gak ngerti mereka ngomong apa. Lebih frustasi lagi ketika gak bisa jawab dengan baik.

Kita-kita mah kan ya baru kenal paling ngobrol asal daerah, kondisi jalan macet, cuaca, makanan, hobi. Lah ini, di hari pertama si Bapak K nanya soal stabilitas politik ("do you think it is politically stable in Indonesia?"), populasi kota ("what is the population in Bandung?"), perdagangan ("which one do you think Indonesia trade with the most, USA or China?"), dan komoditas agrikultur ("do Indonesia grow any nuts, like cashew?"). Gw merasa down dan super cape di hari pertama padahal secara fisik kerjanya cuma duduk dan ngomong doang. Aku pun curhat.

Well noted
Setelah curhat dan kontemplasi, gw berpikir sebenernya masalahnya di pede aja. Gw harus pede dengan broken English, yang penting message-nya dulu yang tersampaikan. Gw pun harus pede dengan jawaban gw kurang menjawab pertanyaan dia. Kalau gak tahu ya bilang aja. Karena setelah menghabiskan waktu lebih lama sama mereka, toh sebenernya mereka tuh cuma pengen tahu aja, bukan intimidating atau ngetes. Dia selalu pake pernyataan "what I'm trying to understand is..." yang gw nangkepnya ya emang pengen tahu aja and let me help you to understand. Pun, ketika dia kemudian misal cerita soal negaranya sendiri setelah dia tanya sesuatu soal Indonesia, terasa sekali diskusinya--sehingga gw pun merasa less intimidated.

Hari kedua, selama perjalanan pp Subang, walaupun mules, gw berusaha untuk memahami temuan gw di atas itu. Karena justru sekarang apa yang dia tanya dan ceritakan pun jadi hal menarik, kaya ketika dia nanya yang intinya kenapa kita sering lihat sawah daripada kolam ikan, padahal sama-sama butuh air dan lahan luas. Atau ketika dia nanya gimana Indonesia jadi negara muslim, influence dari negara mana yang bawa Islam jadi mayoritas, because Bangladesh is also a moslem country. Juga ketika dia nanya struktur tata negara kaya urutan dari negara-provinsi-kota-kecamatan, dia cerita juga kalau di Bangladesh itu pembagiannya lumayan banyak sampai ke unit terkecil. Lupa apa aja, salah duanya ada sector dan district. Momen yang rada cair adalah ketika lagi ngomongin orang :))), tapi itu kaya cuma 2% dari the whole topic hari itu.

Hari kedua: udah mules, hinyay lagi.
Di tambak udang Pak Bambang, Blanakan, Subang.

Hari ketiga, seharusnya udah gak ngurusin mereka lagi secara itinerary, tapi ya udah kadung apa-apa di gw jadi ya mau gak mau tetep ditemenin. Bapak K ini gw lihat sangat kepengen to the point, sedangkan orang yang diwawancaranya kalo jawab suka pake prolog dulu, atau nambah-nambahin poin. Disini gw melihat pola sih. Kadang, orang kita tuh kalo jawab sesuatu gak langsung ke intinya atau diulang-ulang. Apakah itu salah satu adat ketimuran yang membiasakan kita untuk memperhalus makna? Ini gw ngomongin diri sendiri sih.

Ketika berada di tengah sebagai translator antara Bapak K dan rekanan eFishery (orang Indonesia, sebut saja R), gw melihat dua sisi. Di sisi Bapak K dia punya pertanyaan semisal "do you have it?" yang dia gak peduli sama jawabannya mau yes atau no, toh gak ada yang bener--yang penting itu data. Sedangkan di sisi Bapak R ini gw bisa kebayang sebenernya jawabannya no tapi dia merasa kalo no ini jawaban yang buruk jadi dia kasih prolog dulu--yang padahal mah gak usah. Si Bapak K ini kelihatan gak sabar dengan jawaban Bapak R yang muter-muter, sehingga gw pun ikutan gemes "udah sih jawab ajaaa". Tapi kemudian gw kaya lihat diri sendiri. "Oh, gw gitu ya kalau ngomong, gak berani lugas.".

On the other side, si Bapak K ini emang dia punya banyak peer tapi waktunya sempit sih, jadinya serba buru-buru. Salah dia juga agenda sebanyak itu tapi business tripnya cuma 3 hari. You won't get as much as you want.

Di akhir sidak mereka, Bapak K dan Bapak J berjabat tangan dengan gw dan puja-puji meluncur. "Thank you, Hawa, you've been amazing". "Thank you for accompany us for the last 2 days". "Thank you for being proactive and helping". "Thank you so much". Basa-basi perpisahan sih, tapi quite nice juga sebagai penutup rangkaian mules ini. Selesai itu, gw kaya abis batre, langsung tidur di kantor dan "ke belakang" lamaa banget.

Kunjungan ini jadi their first time in visiting Indonesia, by the way.
Gw sih tetep tidak setuju dengan penunjukan go show sendirian ini. Tapi mungkin salah gw juga kenapa gak firmly bilang gak bisa di awal. Bisa jadi karena gw tergoda peluang untuk jadi significant sih. Pun, pada akhirnya, ada hal yang bisa dipetik dari pengalaman ini. Ketika di hari pertama gw down karena merasa gak lancar untuk komunikasi dengan orang asing dan langsung keinget gimana nanti kalau sekolah di luar negri, hari kedua dan berikutnya justru jadi merasa ya yaudah emang harus dihadapi--toh nanti juga bisa karena terbiasa. Dan ketika si Bapak K ini kritis banget nanya-nanyanya, gw juga langsung sadar soal kalau kita ke luar negri each of us itu adalah duta negara. Maka, sangat penting untuk setidaknya memperluas pengetahuan umum soal Indonesia. Hal yang jarang kita pikirkan kalau kita berada di dalam negeri. Or at least me--yang lebih tahu perbedaan cimin dan cilor dibanding perbedaan jumlah impor Cina-Indonesia dan US-Indonesia.

Monmaap nih ya kalau norak, apalagi buat kelen yang hidupnya di luar negeri. Ya jangan dibandingin hidupmu dengan hidup serbuk micin ini.

Cheers!

Sunday, February 18, 2018

Komunikasi Sains (Lagi)

I hope you guys haven't been tired of me pouring you another what and why science communication, because I'm going to share another one :p.

Tanggal 25 November tahun lalu gw ikutan workshop yang judulnya "Menulis Sains" dari Langit Selatan (LS). Thanks to Benet who informed it to me via Instagram (alhamdulillah IG ada faedahnya). LS sendiri namanya udah mampir di telinga gw ketika masih di Pinteraktif, for all I know that it is a media dedicated to share anything about Astronomy in a pop-science way, dan yang bikin orang ITB. Long story short, meluncurlah gw ke lokasi workshop.

Begitu datang, meski telat 15 menit, gw orang ke-2 yang hadir di ruangan... dari 10 orang saja yang daftar. Gw antara sedih tapi maklum karena pertama topiknya mungkin gak begitu se-ngepop dan familiar kayak misal "workshop bikin IG story kamu gak garing" atau "workshop vlog untuk pemula" atau "cara untung bisnis MLM", kedua ya mungkin nama LS gak menggedor banyak orang. Beda misal yang ngadain dari kampus, atau Kompas. Atau mungkin publikasinya aja yang sengaja gak dibikin gebyar karena ternyata peserta yang hadir pada akhirnya punya waktu untuk beneran dikasih feedback sama pembicara.

The spark in me had already begun when I chatted with two speakers while waiting others to come. Mbak Vivi (Avivah Yamani) yang adalah pengelola LS langsung bilang "Oh kamu temennya Toru sama Kiboy? Yah dunia sempit" pas tahu gw dulu di Pinteraktif. Langsung berasa akrab :)). Di basa-basi itu mereka nanya kenapa tertarik ikut acara ini, gw pun cerita pengalaman kerja dsb, bahkan cerita rencana mau ambil S2 SciComm, sampai Mas Zaid (Muhammad Zaid Wahyudi) ngebuka laman eFishery University yang gw kelola di kantor. "Menarik ini," kata beliau. Dibilang gitu sama wartawan rubrik Sains & Teknologi koran Kompas ya gimana gak seneng.

Sesi workshop pun dimulai.

Mbak Vivi memulai dengan penjelasan tentang komunikasi sains; the what, why, and how in general. Gw lupa deh, apakah di blog ini udah pernah gw share soal why scicomm? Oh udah deng, dengan sudut pandang gw sendiri sih. Kalau menurut Mbak Vivi, yang kemudian gw aminkan, kira-kira seperti ini:



Keliatan gak sih? Ini deh ditulisin:
  • Tanggung jawab ilmuwan
  • Isu penting harus diketahui publik
  • Mempengaruhi pengambil kebijakan
  • Fokus media pada berita cepat
  • Latar belakang yang berbeda membutuhkan pendekatan & mekanisme komunikasi yang berbeda
  • Menegaskan garis batas antara sains dan pseudosains
  • Menginspirasi anak muda untuk menjadi ilmuwan
Mbak Vivi sendiri adalah lulusan S1 dan S2 Astronomi, anak Himastron (Himpunan Mahasiswa Astronomi) ITB yang emang suka nulis juga. Selain poin di atas, hal yang paling bikin gatel Mbak Vivi adalah banyaknya hoax di media berita kita, terutama soal ilmu astronomi. Katakanlah teori bumi datar, isu Mars bakal segede Bulan (serem banget), berita soal jarak terdekat Matahari bikin warga Jakarta lebih agresif, bahkan soal supermoon saja beliau sangat berhati-hati untuk gak membesar-besarkannya like other media did. Mbak Vivi menggunakan science communication untuk melawan hoax.

Pengen sih gw tulis panjang lebar soal poin-poinnya Mbak Vivi itu tapi nanti kepanjangan. Gimana kalau kita simak aja apa yang Greg Foot ceritakan soal kenapa scicomm itu penting. What he delivers are similar with Mbak Vivi's talk:


"To share the wonder of science," he said. Exactly what I wrote in my personal statement for scholarship application :)). Eh btw, Mas Greg ini salah satu science communicator yang namanya cukup "kedengeran", setidaknya di Inggris.

I want to share something my father said as well regarding a science communicator that connects scientist and society. Katanya, kita punya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) tapi gak ada orang profesional yg mempublikasikan jurnal-jurnal penelitian. "Kalaupun ada publikasi, mereka hanya administrasi saja. Bahkan ITB pun gak ada badan khusus yang mempublikasikan penelitian. Bandingkan sama NASA, itu jadi sesuatu yang besar," ujar beliau. Agak diedit dan sensor sana-sini ya soalnya ya Pak Dadang kan kalau ngomong mayan pedes ya sis. Intinya, beliau juga menyayangkan padahal kita punya banyak lembaga-lembaga pendidikan tapi ya sains hanya dikonsumsi di lingkungan mereka sendiri saja. (Mas/Mbak Humas LIPI, mungkin kita bisa ngobrol-ngobrol sambil ngopi?)

Bicara soal pendidikan--balik lagi ke suasana workshop "Menulis Sains"--di sesi kedua yang disampaikan oleh Mas Zaid, beliau punya pendapat sendiri kenapa komunikasi sains ini penting: membangun logika bangsa. Beuh.

Sebagai science journalist, Mas Zaid menggunakan sesinya lebih ke teknis menulis. Katanya, ada 4 hal yang harus dimiliki kalau mau menulis sains, apalagi yang tujuannya untuk inform banyak orang:
  1. Logis, mampu menalar
  2. Skeptik, tidak mudah percaya
  3. Paham teknis
  4. Jujur
Kemudian lanjut ke jenis-jenis tulisan, gimana caranya nulis teras berita, konstruksi 5W1H, nyari ide liputan sains dari berita sehari-hari, sampai akhirnya ke sesi dimana masing-masing peserta mencoba membuat tulisan tentang sains. Kami berlima (iya, pesertanya akhirnya 5 doang yang hadir!) dikasih waktu sejam lalu satu-satu maju untuk jelasin singkat soal tulisannya. Gw, karena antusias dan emang kepepet ada janji jam 6 sore, akhirnya berinisiatif untuk maju pertama. Memang ya, manusia yang suka tidur dan dapat nilai D di kelas kalkulus seperti saya ini bisa berubah jadi ambisius kaya Agnes Mo kalau berhadapan dengan hal yang disukai.

Sesi Mas Zaid soal menulis sains. Ambisius kan aku duduk paling depan. :)) (credit Langit Selatan)

Waktu itu karena lagi rame soal Adam Fabumi, si anak bayi yang meninggal karena komplikasi penyakit langka, gw pun menulis tentang apa di balik sindrom Dandy Walker itu. Feedback Mas Zaid soal tulisan gw adalah katanya ini lebih cocok untuk disimpen di media-media internet. Gw antara skip instruksi tugasnya atau emang kebiasaan bikin artikel buat EU, jadinya emang sengaja dibikin buat digital, plus H1 H2 buat SEO--yang kemudian ini juga dikomen sama beliau kalau jangan terlalu banyak dijeda karena bakal terlalu pendek kalau untuk media koran. Well, memang beda media beda pendekatan. Tapi beliau secara umum suka dengan apa yang gw tulis dan impressed dengan closingnya yang kata dia memberi bekas bagi pembaca. Good to know.

Goal: jadi pembicara untuk komunikasi sains di Indonesia! (credit Langit Selatan)

Setelah gw lalu ada guru-guru SD yang pengen juga bikin sesuatu yang engaging buat muridnya. Satu soal cuaca, satu lagi topiknya tentang lendir paus. Lagi-lagi, karena excited, gw yang biasanya diem kaya kecambah (you should see me in every quarterly meeting at office :p), nyumbang masukan juga yang diamini pembicara. Not gonna lie, it felt good.

Selain itu, hal menarik yang gw ambil dari sesi diskusi langsung tersebut juga adalah caranya Mas Zaid memberikan feedback kepada peserta dengan sabar. Tulisannya ibu-ibu guru itu were not the best I would say, tipe yang bikin urut-urut kepala kalau gw jadi editor. Seperti ketika gw harus meriksa tulisan yang dibuat orang lain, dan ketika gak ketemu sama ekspektasi, lalu gw hanya akan megang kepala dan diam, gak tahu harus gimana. Dari Mas Zaid ini gw belajar gimana mengartikulasi masukan, apalagi terkait tulisan yang beliau sendiri bilang kalau nulis itu kadang adalah soal rasa dan seni. Emang harus pinter aja kaya misal ga bisa tuh ngasih feedback cuma "kayanya lebih enak gini kalimatnya" tapi harus dibikin jelas kaya "anak kalimat ini harus nyambung sama induk kalimat sebelumnya, pakai kata keterangan aja biar bisa disambungin". Note to self, pinter dan sabar.

Segelintir orang-orang yang tertarik scicomm (credit LS)
All to all, gw seneng bisa ikut acara semacam ini. Seneng banget bisa menemukan orang-orang yang berkecimpung di dunia scicomm in real life. Satu pesan dari Mas Zaid soal scicomm: mulai aja sekarang. Teknis bisa dipelajari sambil jalan, yang penting konsisten. *ngomong ke diri sendiri

Terimakasih sudah mengisi bensin untuk membakar semangat komunikasi sains!

Cheers!

Saturday, January 6, 2018

Aktifitas atau Aktivitas?

Tanpa bermaksud sombong, bagi saya penulisan kata "aktifitas" itu sama-sama bikin gatel kayak lihat Yakult yang dibiarkan di suhu ruang. Satu level sama orang yang tepuk tangan pas pesawat sukses landing. Just why.

Tapi karena kejumawaan adalah temannya setan, maka saya gak boleh sinis. Hanya saja, I was genuinely surprised bahwa ternyata masih ada aja yang nulis gitu. Saya pikir menulis yang demikian adalah sebuah common sense, ternyata memang tidak semua orang ngeh akan hal itu ya. Ibarat orang buang sampah sembarangan aja sih, dikira common sense tapi ternyata gak semua orang ngerti kenapa buang sampah harus di tempatnya. Ibarat saya yang agak gaptek terus pasti bakal dilihat seperti simpanse aja oleh yang jago teknologi ketika mengoperasikannya.

Tapi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut saya penting untuk diterapkan oleh orang Indonesia sendiri. Kalau belum biasa, setidaknya diingat mana yang baik dan tidak menyebarkan kebiasaan yang salahnya. *karena pengen bener berbahasa, kata "saya" dipakai khusus untuk postingan ini. Oke baiklah. :))))

Mari kita telaah (tela-aaah~) kesalahan umum yang tadi. Mana yang bener, "aktivitas" atau "aktifitas"?

Jawabannya "aktivitas".
Kenapa? Dalam bahasa Indonesia, ada banyak kata-kata yang diserap langsung, baik kata dasar maupun kata berimbuhannya. Unsur kata serapan ini biasanya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, makanya ejaan dan pengucapannya diubah tapi tetap dapat disandingkan dengan kata aslinya. Apa maksudnya? Salah dua dari Panduan Penulisan EYD itu kurang lebih kaidahnya begini, terutama untuk yang serapan dari bahasa Inggris;

  • Kata yang memiliki huruf v di depan atau di tengah kata, tidak berubah. Contohnya, vitamin tetap jadi vitamin, television jadi televisi.
  • Penulisan kata yang berakhiran -ive berubah menjadi -if, sedangkan -ity menjadi -itas. Contohnya, descriptive jadi deskriptif, university jadi universitas.
Dengan rumus itu, maka;

Kata yang asalnya active menjadi aktifdan activity menjadi aktivitas.

Oke, gan?


Menurut internet (karena saya belum pernah tanya langsung) sih katanya orang yang nulis "aktifitas" itu mengira kalau kata dasarnya adalah "aktif" terus ditambah "-itas". Kata dasarnya udah bener memang, tapi ya itu tadi, kata-kata banyak yang diserap tidak hanya kata dasarnya aja tapi juga kata berimbuhannya. Nah, kalau orang yang nulis "aktiv" gimana? Duh, gimana ya. Tanpa mengurangi rasa hormat, kadoin buku LKS Bahasa Indonesia aja tolong. Nggak deng, ya udah inget aja kaidah yang di atas itu.

Ada satu lagi yang bikin saya gatel, yaitu penulisan kata depan "di". Sama kayak sebelumnya yang dikira udah gak perlu dikasih tahu lagi, eh ternyata banyak juga orang yang nulis "ditempat", "dilokasi", "diruangan", "di kerjakan". Walaupun tipe "di kerjakan" lebih jarang sih dibanding yang 3 sebelumnya. Do you see the problem?

Penggunaan "di" itu dipisah ketika diikuti oleh kata benda dan kata keterangan. Hanya jika "di" diikuti oleh kata kerja, maka penulisannya digabung.

Contoh "di" yang diikuti kata benda atau keterangan:

di kamar
di dapur
di ruangan
di tahun 2018
di bab 10
di kantor
di atas
di samping

Termasuk nih, kata yang banyak mengecoh orang: di mana. Banyak, termasuk saya juga kadang lupa, yang nulis ini jadi "dimana" karena seolah "dimana" udah jadi satu kata yang gak bisa dipisah. Ternyata nggak guys, penulisannya harus dipisah karena itu menunjukkan kata keterangan tempat.

Contoh "di" yang diikuti kata kerja. Ini jadi bentuk pasif dari kata kerja:

dibersihkan
dicuci
dilihat
dikembangkan
dijalani aja dulu siapa tau nyaman
dipasangkan cincin
diputar
dipanaskan
diaduk
ditulis

Oke lah, segitu dulu kelas bahasa Indonesia ala-ala di wiken ini. Bukan mengajari untuk kaku, karena toh saya juga pengguna bahasa informal sehari-hari. Tapi dua contoh di atas toh bukan soal formal - informal, itu kaidah bahasa Indonesia yang dasar banget dalam berbahasa. Masih banyak juga sih kaidah bahasa yang kadang kita lupa atau abaikan. Bisa dilihat di blog ini kalau mau. And there are many many many more if you want to find out yourself.

Anyhow, to me personally, alhamdulillah menulis adalah sesuatu yang terasa alami--dan yang mau saya pelajari dengan ringan hati. Mungkin kalau temen-temen kelebihannya beda lagi, semisal bisa masak soto sambil merem. Sedangkan saya goreng nugget aja undercook. Saling mengingatkan aja ya, kalau ada yang gak tahu, ya kasih tahu aja tanpa mengolok-olok. Walaupun ya ada aja ignorance orang yang bikin pengen kayang.

Cheers!