Saturday, January 6, 2018

Aktifitas atau Aktivitas?

Tanpa bermaksud sombong, bagi saya penulisan kata "aktifitas" itu sama-sama bikin gatel kayak lihat Yakult yang dibiarkan di suhu ruang. Satu level sama orang yang tepuk tangan pas pesawat sukses landing. Just why.

Tapi karena kejumawaan adalah temannya setan, maka saya gak boleh sinis. Hanya saja, I was genuinely surprised bahwa ternyata masih ada aja yang nulis gitu. Saya pikir menulis yang demikian adalah sebuah common sense, ternyata memang tidak semua orang ngeh akan hal itu ya. Ibarat orang buang sampah sembarangan aja sih, dikira common sense tapi ternyata gak semua orang ngerti kenapa buang sampah harus di tempatnya. Ibarat saya yang agak gaptek terus pasti bakal dilihat seperti simpanse aja oleh yang jago teknologi ketika mengoperasikannya.

Tapi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut saya penting untuk diterapkan oleh orang Indonesia sendiri. Kalau belum biasa, setidaknya diingat mana yang baik dan tidak menyebarkan kebiasaan yang salahnya. *karena pengen bener berbahasa, kata "saya" dipakai khusus untuk postingan ini. Oke baiklah. :))))

Mari kita telaah (tela-aaah~) kesalahan umum yang tadi. Mana yang bener, "aktivitas" atau "aktifitas"?

Jawabannya "aktivitas".
Kenapa? Dalam bahasa Indonesia, ada banyak kata-kata yang diserap langsung, baik kata dasar maupun kata berimbuhannya. Unsur kata serapan ini biasanya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, makanya ejaan dan pengucapannya diubah tapi tetap dapat disandingkan dengan kata aslinya. Apa maksudnya? Salah dua dari Panduan Penulisan EYD itu kurang lebih kaidahnya begini, terutama untuk yang serapan dari bahasa Inggris;

  • Kata yang memiliki huruf v di depan atau di tengah kata, tidak berubah. Contohnya, vitamin tetap jadi vitamin, television jadi televisi.
  • Penulisan kata yang berakhiran -ive berubah menjadi -if, sedangkan -ity menjadi -itas. Contohnya, descriptive jadi deskriptif, university jadi universitas.
Dengan rumus itu, maka;

Kata yang asalnya active menjadi aktifdan activity menjadi aktivitas.

Oke, gan?


Menurut internet (karena saya belum pernah tanya langsung) sih katanya orang yang nulis "aktifitas" itu mengira kalau kata dasarnya adalah "aktif" terus ditambah "-itas". Kata dasarnya udah bener memang, tapi ya itu tadi, kata-kata banyak yang diserap tidak hanya kata dasarnya aja tapi juga kata berimbuhannya. Nah, kalau orang yang nulis "aktiv" gimana? Duh, gimana ya. Tanpa mengurangi rasa hormat, kadoin buku LKS Bahasa Indonesia aja tolong. Nggak deng, ya udah inget aja kaidah yang di atas itu.

Ada satu lagi yang bikin saya gatel, yaitu penulisan kata depan "di". Sama kayak sebelumnya yang dikira udah gak perlu dikasih tahu lagi, eh ternyata banyak juga orang yang nulis "ditempat", "dilokasi", "diruangan", "di kerjakan". Walaupun tipe "di kerjakan" lebih jarang sih dibanding yang 3 sebelumnya. Do you see the problem?

Penggunaan "di" itu dipisah ketika diikuti oleh kata benda dan kata keterangan. Hanya jika "di" diikuti oleh kata kerja, maka penulisannya digabung.

Contoh "di" yang diikuti kata benda atau keterangan:

di kamar
di dapur
di ruangan
di tahun 2018
di bab 10
di kantor
di atas
di samping

Termasuk nih, kata yang banyak mengecoh orang: di mana. Banyak, termasuk saya juga kadang lupa, yang nulis ini jadi "dimana" karena seolah "dimana" udah jadi satu kata yang gak bisa dipisah. Ternyata nggak guys, penulisannya harus dipisah karena itu menunjukkan kata keterangan tempat.

Contoh "di" yang diikuti kata kerja. Ini jadi bentuk pasif dari kata kerja:

dibersihkan
dicuci
dilihat
dikembangkan
dijalani aja dulu siapa tau nyaman
dipasangkan cincin
diputar
dipanaskan
diaduk
ditulis

Oke lah, segitu dulu kelas bahasa Indonesia ala-ala di wiken ini. Bukan mengajari untuk kaku, karena toh saya juga pengguna bahasa informal sehari-hari. Tapi dua contoh di atas toh bukan soal formal - informal, itu kaidah bahasa Indonesia yang dasar banget dalam berbahasa. Masih banyak juga sih kaidah bahasa yang kadang kita lupa atau abaikan. Bisa dilihat di blog ini kalau mau. And there are many many many more if you want to find out yourself.

Anyhow, to me personally, alhamdulillah menulis adalah sesuatu yang terasa alami--dan yang mau saya pelajari dengan ringan hati. Mungkin kalau temen-temen kelebihannya beda lagi, semisal bisa masak soto sambil merem. Sedangkan saya goreng nugget aja undercook. Saling mengingatkan aja ya, kalau ada yang gak tahu, ya kasih tahu aja tanpa mengolok-olok. Walaupun ya ada aja ignorance orang yang bikin pengen kayang.

Cheers!

Friday, December 29, 2017

Susan Cain's Guide for Introverted Teens

Hai!

Entah kapan terakhir ngereview buku di blog ini, udah lama banget rasanya. Oh, terakhir tuh yang bahas buku The Rule of Four dan Happy Little Soul-nya ibuk Kiwana (linknya barangkali mau intip). And that was like 7 months ago, ketauan gak banyak baca selama 7 bulan itu. Well sebenernya baca Sirkus Pohon-nya Andrea Hirata, Bajak Laut dan Purnama Terakhir-nya Adhitya Mulya (my two fav writers!), buku kumpulan cerpen dimana temen gw menjadi salah satu penulisnya, dan tentu saja buku hadiah ulangtahun Agustus lalu yang akan direview di post ini. ;)

Here it is.



Quiet Power: The Secret Strengths of Introverts by Susan Cain.

If you're an introvert and love reading, I assume that you would know her already. Dia ini terkenal sebagai penulis buku Quiet yang sejak peluncurannya di tahun 2012 telah menjadi best-seller. Buku itu mengupas sifat introvert like no one ever did, as long as I know, karena sebetulnya ada banyak sumber yang membahas introversion tapi tidak menyeluruh seperti Mbak Susan ini. She was then invited to speak at TED Talks and asked by teachers in schools and communities to discuss on how introverts actually function at society. Dia ini lulusan Princeton dan Harvard, and she's an introvert herself. In a nutshell, orang pinter yang berdedikasi tinggi pada issue yang menjadi perhatiannya. She even initiated "Quiet Revolution" website where she shares her experiences and gives some advices regarding introversion.


Mbak Susan
What I'm going to review is the "lighter" version of the Quite book. Fyi, I own both books but actually I haven't read the first one. This book basically has the same messages, but it is specially written and researched for teenagers (as you may see on the cover). That being said, the content itself points out problems that young people mostly have to face. Ukuran fontya juga lebih gede dan jumlah halamannya gak sebanyak pendahulunya.

Ada 4 bagian besar di buku ini: School, Socializing, Hobbies, dan Home. Kehidupan anak remaja banget kan. Nah di setiap bagian itu ada beberapa chapter sendiri yang emang ngebahas sesuai topik bagiannya. Every chapter mostly goes like this: penggambaran pengalaman seorang remaja di Amerika terkait "masalah"nya dengan introversion, kemudian menemukan solusi, lalu ditutup dengan poin-poin kesimpulan.

Contohnya, di chapter "Quiet in the Classroom" yang ada di part School, ada cerita tentang bagaimana guru melihat keaktifan murid di kelas sebagai tolak ukur penilaian. Artinya, yang angkat tangan dan lebih sering ngomong dianggap mengerti dan engaged sama diskusi kelas--yang diem aja dianggap males dan gak berkontribusi. Padahal, bagi introverts, mereka sebenernya sama-sama engaged di kelas, hanya saja mereka tidak akan raise their hands immediately and blurt out. Introverts tend to think first before speaking. Kalau mereka diberi waktu barang 1 menit aja, introverts siap untuk menjawab secara komprehensif.


We all know one person in a class that constantly shoot his/her hand in the air and want to have the last word.
Kemudian si anak remaja introvert ini nulis surat ke gurunya yang intinya "Bu, urang teh introvert. Ngarti we atuh*." dalam bahasa Inggris yang sopan tentu saja. Anak ini jelasin dia bukannya males, tapi memproses informasi dengan cara berbeda aja dibanding murid lain. Untungnya si gurunya paham dan mengganti style diskusinya dengan metode "Think, Pair, Share" dimana muridnya disuruh mikir, diskusi berdua sama temennya, baru diskusi besar. Metode ini gw rasa tidak hanya memfasilitasi introverts untuk berpartisipasi tapi juga memberi waktu bagi semua orang untuk mikir dulu baru ngomong.
*Bu, saya ini introvert. Ngertiin dong.

Salah satu bahasan setelah itu adalah gimana introverts juga harus mau expand their comfort zones. Jangan terjebak dengan "saya kan introvert, saya diem aja ah". Introvert tidak sama dengan malas. Give some time to ourselves to think and then speak up. Di buku itu disebutkan yang intinya the more you try to speak up, the more you'll get used to it and eventually it will feel more natural to you.

Sifat lain yang berkaitan erat dengan introvert itu perfeksionis dan pemalu. Can you imagine how we introverts feel when we have to speak in front of people? Takut salah, takut gagap/belepotan, takut diliatin orang, atau takut jawabannya ngasal ga komprehensif. Nah, jadi si takutnya itu harus dipangkas dengan terbiasa ngomong di suatu forum without leaving our nature as an introvert.


How to embrace your introversion
Ada banyak contoh-contoh di buku ini yang--walopun kasusnya teenagers--gw bisa relate dengan pemikiran dan pengalaman sehari-hari. Kalau dibahas satu-satu bakal kepanjangan karena plus curhat. Baca buku ini semacam baca Chicken Soup for the Soul (yang terkenal di akhir 90an) tapi tentu saja lebih modern dan relatable. Kalau gw punya anak remaja yang udah lancar English, I would 100% recommend this book to them. This would help them to embrace their uniqueness among their loud world. Well if they are extroverts, I would still recommend them to read it--to understand the different trait other people have (including their mother! :p). *oke kejauhan

Gw gak tahu sih apakah dunia pendidikan sekarang udah memperhatikan sisi extrovert/introvert dari peserta didiknya. Semoga sih udah ya, setidaknya tahu aja udah cukup. The thing is bukan berarti para introverts ini pengen dimanja dan merengek pengen diperhatiin, tapi lebih ke cara belajar dan berinteraksi aja yang memang genetically berbeda. Why genetic? Karena introversion ini science-based, people! Contohnya, sirkuit otak introvert simply cannot well-function when they're stimulated with too many noises. Mirip-mirip lah sama 9 tipe kecerdasan (kecerdasan musikal, analitikal, interpersonal, dkk). Orang yang gak bisa berhitung, bukan berarti bego selamanya, tapi dia punya ekspresi kecerdasannya sendiri.

Makanya kenapa Mbak Susan Cain ini selalu gadang-gadang "power of introverts" karena menurutnya ada 2 kekuatan yang dimiliki seorang introvert:


  • Fokus.                                                                                                        Introverts lebih sibuk dengan pikirannya sendiri dan kalau udah into something, mereka bisa do the hard work alone for a long time. This comes easy for introverts because they love their alone time. Ketika itu digunakan untuk mengasah kemampuan, eventually introvert bisa sukses di bidang apapun. Ibarat air vs batu. Tetesan air yang turun terus-menerus ke titik yang sama di batu keras, lama-lama batunya terkikis juga.
  • Empati.                                                                                                      Introverts are observer. Mereka melihat dan menganalisis kejadian di sekitarnya, quietly. That is why they tend to see a bigger picture of a problem. Since they are also prefer private speaking than group chatting, ngobrol deep talk sama introverts akan terasa lebih personal dan komprehensif.


Gw sendiri, walaupun introvert in many ways, kadang 2 power itu belum gw manfaatkan dengan maksimal. Focus attention span gw saat ini berkurang karena kebanyakan lihat feed Instagram (again, damn you Instagram!). Also, sometimes private speaking is frightening, gw merasa lebih aman kalau temen curhat di grup aja daripada japri. Empati sebelah mananya kan :)). Tapi mungkin di beberapa aspek 2 power itu dipakai secara tidak sadar sih. I do realize "kemalasan" yang kadang muncul gak boleh gw sebut introversion. Although it may comes from my introvert nature, tapi ada batasnya dimana gw disebut introvert atau demotivasi.

Well, segitu dulu reviewnya.

Buku ini berkaitan erat dengan personaliti pribadi jadi gak bisa gak masukin pengalaman sendiri :)). Oh ya, while Quiet is written by Susan Cain alone, this teen version involved other two writers (as you may see on the cover). Both books can be purchased in bookstores like Periplus or Books & Beyond. The Quiet book is on my reading list and I can't wait to explore it.

Always get a good book on your side, folks.

Cheers!

Thursday, December 14, 2017

You Have One Hour

Dalam satu jam, apa aja sih yang bisa kita lakukan?

Bisa makan sambil ngobrol-ngobrol, bisa bete di jalan terjebak macet, bisa nonton drama series 1 episode, bisa masak rendang setengah mateng, atau bisa lagi deg-degan karena mau wawancara kerja atau meres otak karena lagi ujian.

Gw seolah diingatkan lagi soal betapa berharganya waktu ini ketika kemarin tes ielts yang kesekian kalinya. Paling kerasa di bagian reading dan writing. Di kedua bagian ini kita dikasih waktu masing-masing 60 menit alias 1 jam. Pada reading, waktunya kebagi 3 karena ada 3 passage yang harus dibaca dan dijawab pertanyaan terkait passage tsb. Otomatis, kita mengalokasikan 20 menit for each task, di instruksinya pun demikian sih. Walaupun menurut gw ternyata ga se-even itu pembagian waktunya. I would say 15, 20, dan 25 karena tingkat kesulitannya semakin naik. Anyway, dalam waktu yang singkat itu, kita dituntut paham poin-poin utamanya, terlebih agar bisa menjawab pertanyaan. Sama ceritanya dengan writing yang punya 2 task. Task 1 dikasih waktu 15 menit dan task 2 sisanya yaitu 40 menit.

Baik reading maupun writing, yang pertama dilakukan adalah lihat jam. Jam berapa mulai dan jam berapa ini harus selesai. Ketika jreng mulai, waktu rasanya sangat amat berharga, ketika udah lewat semenit, gw minimal harus tahu apa yang dihadapi. Empat menit berikutnya gw udah harus bisa memahami pertanyaan (pada reading) dan bikin draft tulisan (pada writing). Pas 5 menit terakhir, itu rasanya senewen sekaligus lega sih. Senewen karena waktunya "tinggal" 5 menit tapi lega karena bersyukur "masih" punya 5 menit. Dimana di waktu segitu, masih ada banyak hal yang bisa dilakukan, seperti mengecek typo, nambah kalimat penutup, atau mengerjakan 5-8 soal sisa di passage terakhir terus kalo frustasi jadinya nebak HAHA itu mah gw kemaren.

This thought came when I was in spare time after I finished my exam. Bagi gw yang banyak menghabiskan waktu di Instagram lately, this whole thing is completely a self-reminder. Saat itu gw mikir, "wah ini selonjoran gini sambil browse Instagram kalo kemaren dipake mikir ielts kemarin berharga banget waktunya ya" atau kaya "kemarin 1 jam bisa nulis at least 450 kata, sekarang dipake bikin apa ya?".

Pada saat ujian, gw sadar sekali pergerakan jarum jam dan detik yang berdetak. Perubahan dari 12.15 jadi 12.18 itu sangat berharga. Kalau hari biasa mah hardly even notice, itungannya baru kerasa kalo udah beda 1 atau 2 jam. Dan ternyata waktu berjalan sangat cepat. Seremnya lagi--although this is absolute and obvious--waktu tuh emang gak bisa mundur, dia akan maju aja gitu, gak ada yang bisa memberhentikan jarum detik bergerak--kecuali batre jamnya abis *ba dum tss*. Intinya, waktu tak menunggu siapa pun.

Kadang suka lupa sih kalau waktu yang kita punya itu kayak uang. How do we want to spend our time? Waktu juga bisa habis kayak uang. Instantly, gw langsung inget surah Al Asr yang dimana Allah bersumpah demi masa, demi waktu.

source

Apalagi ya kalo mengingat bahwa waktu di dunia ini kalau dibandingkan waktu di akhirat ibarat cuma 15 menit aja. Subhanallah wallahuallam.

So, please, use your time wisely ya *100% ngomong ke diri sendiri

Cheers!

Wednesday, November 22, 2017

Berani Ngomong

Apa sih yang pertama kali pertama terpikir ketika denger kata "speak up"?

Meski mungkin sering ketemu di buku-buku berbahasa Inggris, kayanya gw pun baru ngeh ketika ngerjain proyeknya PermataBank di Pinteraktif dulu. Waktu itu topiknya adalah macam-macam kode etik dan dari sekian banyak poin, ada poin "speak up". Kode etik yang dimaksud emang lebih ke praktik pencegahan pencucian uang, penyuapan, dan hal perbankan lainnya. Karyawan diharapkan bisa speak up alias berani ngomong/eskalasi ke tingkat manajer/yang memegang kepentingan kalau-kalau ada kecurangan yang dia lihat.

Jadi, speak up adalah berani ngomong.

Waktu itu gw gak kebayang apa susahnya ngomong kalau ada sesuatu yang aneh terkait transaksi atau tindakan mencurigakan di kantor. "Speak up tuh gimana ya? Apa bukannya tinggal ngomong aja gitu, misal 'pak, kok si ini kemarin saya lihat nerima parsel' ke atasannya?" demikian pikiran lugu gw saat itu.

Little did I know, ternyata speak up adalah sebuah skill tersendiri dan gak gampang dilakukan. Setidaknya buat gw, sang pecinta damai yang menghindari konflik dan kalau ada konflik pun jadinya bara dalam sekam sambil berharap masalahnya hilang secara mejik.

Hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Masalahnya ada di komunikasi gw dengan atasan--yang ternyata bukan cuma gw aja yang merasa, but the whole team, if I must say. Ceritanya panjang banget dan penuh dengan konflik duka lara haha tapi intinya dia (diaaa~) encouraged me to speak up.

"Kalau gak dikasih tahu ke orangnya, ya gak akan selesai masalahnya," demikian dia berucap. Kebiasaan ghibah kan ya, kalau ada gak suka sama orang, ciwik-ciwik ni kemudian berkeluh kesah saja ke sesamanya, kadang malah nambahin bensin. :))

Long story short, gw pun speak up ke atasan. Hal itu akhirnya gw lakukan setelah keengganan sekian lama sampai pada kesadaran ya kalau gak ngomong, it may affect the team's future development. Mungkin speak ini bermanfaat gak cuma untuk kebaikan diri sendiri, tapi juga untuk kebaikan tim, dan kebaikan perusahaan.

Mungkin beda kali ya, "speak up" kaya di perbankan yang gw mention sebelumnya dengan "speak up" soal kerja ke atasan. Ibaratnya, kalo yang "speak up" perbankan gitu kayak ngadu, orangnya mah gak tahu kalau kita ngomongin dia. Kalau "speak up" yang ini kan langsung ngomong "maneh aral, urang teu resep" straight to the person's face. Ada banyak bebannya bagi gw, intinya ya gak enakan aja. Pertama, sekali lagi, gw anaknya gak biasa kasih kritikan dan tidak pandai berargumen face-to-face. Kedua, ini gw ngomong sama atasan. Walaupun secara umur di bawah gw, tapi saya ini berprinsip dimana dia punya kekuasaan disitulah kebenaran berada (naon). Ya intinya gw ini lemah sama orang yang punya otoritas. Lemah sekaligus benci haha karena gw pengen juga sepowerful orang itu.

What I'm trying to say is that speaking up is one of the skills we should have. Ada hal-hal yang harus dilatih ketika mau ngomong, gw harus:
- berani
- jangan takut salah (bedanya sama yang atas apa ya, lol)
- sadar akan konsekuensi (mempertimbangkan kalau gw gak ngomong, dampaknya apa)
- kritis (bagi gw yang mentalnya "yaudahlah" ini tantangan sih), tapi jangan juga clouded by emotion doang, harus bisa include logical reasoning.

Well, mungkin belum seambis Lisa Simpson
Anyway, tadi sempet nyari juga artinya speak up apa. Ternyata sebenernya "speak up" tuh lebih ke speak louder like in "speak up, I can't hear you". Nah, kalau "speak out" itu yang "express one's feelings or opinions frankly and publicly". Tapi gak salah juga sih pake "speak up", hanya saja lebih tepat "speak out".

Demikian. Kalau speak up/out versi temen-temen apa? Share in the comment below and let's share experiences *ala-ala artis yutup.

Cheers!

Monday, September 25, 2017

I'm a What?

Wow, jadi selama wiken ini (terhitung dari Jumat malam), gw merasa banyak mendapat pencerahan terhadap sifat gw selama ini. Like, what, lu baru sadar sekarang? Ngapain aja 27 tahun ke belakang? Berarti apa yang gw lakukan selama ini salah dong? Woah, jadi panik. Gak 100% panik sih, karena sebagian dari itu adalah excitement dalam mempelajari diri sendiri--karena selalu ada hal yang menarik kalau udah menyangkut perilaku orang.

Jadi, hari Jumat kemarin ceritanya gw ini dicarekan. Disemprot. Dinasehatin. Ya, you name it.
Awalnya adalah yang gw mulai notice dari beberapa hari yang lalu kalau kebiasaan buruk yang gw lakukan selama ini akan berdampak lebih buruk lagi ke habit dan hidup secara general. Gak mau efek domino ini berlanjut, gw pun segera ngomong sama diri senditi, " oh ini gak bener sih, I need help". Jadilah gw curhat sama dia. Karena beda sih ya kalau curhat sama cewek lagi, apalagi yang deket, pastinya digulain. Malam itu, gw digalakin *insert emoji ketawa tapi nangis*.




Intinya, dari situ, yang bisa diambil sebagai saran adalah:

1. Gw ini perfeksionis but not in a good way

Karena topiknya kemarin adalah soal kerjaan, jadi contoh perfeksionis disini adalah ketika I want a make a good piece of writing.

Di mindset gw adalah, gw ingin deliver sesuatu itu dengan baik. Pantang ngasih draft karena, salah satunya, ngerjain the whole thing sama yang nyicil-nyicil itu feelnya beda. Padahal katanya kan "continuous improvement is better than delayed perfection". Nah, definisi "dengan baik" itu kemudian I put a lot of effort to make it good, but then I get lost in the process. Kata dia, kalau nyari sumber jangan keterusan kayak link Wikipedia (yang buka ini muncul info baru lagi, klik ini muncul info lagi), kecuali kalau memang, misal, 10 sumber can make a significant impact dibanding cuma 3 sumber. Kalau sama aja, ya mending stop di 3 sumber, kupat tahuuuu! *toyor pala sendiri.

Gw banyak mendapat "praise" kalau gw ini orangnya detail. Bungah (seneng) atuh ya namanya dipuji. Tapi sebenernya udah merasa dalam hati kalau perfeksionis ini bukan yang oke gitu, hanya saja belum nemu gimana contoh konkrit gak okenya. Ternyata ya itu, gw sering tersesat pada cara yang inefisien ketika pengen mencapai sempurna.

Hal ini pun terefleksikan ke kehidupan sehari-hari. Contohnya, gw gak mau bales sesuatu yang butuh mikir dan menurut gw harus dibales di kondisi dan susunan kata yang paripurna. Padahal mah cuma si orangnya cuma minta apaa gitu. Misalnya, orang nanya, "udah liat email?". Itu adalah salah satu pertanyaan terserem menurut gw, satu level di bawah "kita perlu ngobrol". Jadi, meskipun gw udah liat emailnya misal tapi belum nemu jawaban yang sempurna maka gw tunda aja jawabnya sampe gw merasa less intimidated. Selama delay itu gw akan merasa gak nyaman kaya ambeien. Setelah berapa lama, gw akan jawab kayak jawab soal esai. Padahal si orangnya mah cukup tau kalau gw udah cek email apa belum, udah, gak wajib dibahas panjang. Nah jadi rugi kan gw gelisah.

Hal lain adalah kayak, gak mau nulis sebelum jiwa dan raga ini terpenuhi dengan baik. Gak mau nyuci sebelum nulis selesai sempurna. Gak mau ngucapin selamat ulang tahun ke temen karena pengen bikin puisi ala Aan Mansyur. Gak mau melakukan ini karena itu belum ada dan belum sempurna. Yah, akhirnya gw nanti akan menunggu saja dan bukan menjalani hidup dan mengambil kesempatan-kesempatan. Hii, serem juga.

2. "Terus, mau nyalahin orang lagi?"

Menusuk rasanya, tapi bener sih.

Ini mungkin lanjutannya perfeksionis yang inefisien tadi. Jadi misal ya, gw pengen nulis itu ketika jiwa dan raga siap. Agar raga siap, gw butuh kupat tahu anget maka pergilah ke warung depan. Eh taunya ngantri banget tuh, gw pun ngabisin 1 jam sendiri untuk ngantri doang. Jam makan siang pun habis, gw pun bete dan bilang,

"orang-orang sih tadi banyak banget, terus ibu yang ngeladanginnya juga cuma sendiri pula, lama banget, sebel."

Padahal kan bisa gojekin aja gitu. Gak perlu nyalahin orang-orang da sarua hayang kupat tahu, apalagi nyalahin ibu yg jualnya. Maksudnya, bisa sih ngedumel karena mungkin hal-hal yang orang lakukan itu emang unpleasant, tapi kita toh gak bisa ngontrol mereka mau ngapain, instead kita bisa ngontrol reaksi kita dan memilih untuk deal with it dan keep going menuju tujuan.

Jadi inget kasusnya rekan kerja di kantor yang dulu. Ada temen gw yang ngedumel juga soal sistem dan nyalahin tim karena kurang ini itu. Terus atasan kami waktu itu bilang, "gw tahu ibaratnya kita mau pergi ke Puncak (yang di Bogor itu ya, bukan sekedar metafor) itu idealnya naik mobil biar nyaman, tapi sekarang adanya vespa jadul ya mau gak mau kita pake si motor butut itu buat kesana". Which is actually exactly what the HR said to me regarding my issue at the office.

Stop blaming and stop seeing yourself as a victim. While maybe you have the right to be angry because you're wronged, but better to focus on what you can do, not just throw some rants. *ngomong sama diri sendiri

----

Satu lagi sebenernya adalah tentang "get off of your comfort zone" tapi kemudian gw dari dulu merasa konsepnya abstrak. I mean, I do understand the meaning dan gimana cara mencapai itu, kayak "memaksa" diri untuk melakukan lebih dan untuk "stretching" ke lingkungan yang bisa menempamu lebih baik. Turns out, contoh konkrit di 2 poin di atas lebih efektif karena dari situ gw bisa kebayang "oh contoh nyaman adalah ketika nyalahin orang lain, berarti keluar dari zona nyaman adalah stop blaming dan start to take my own responsibility".

Sebelum nulis post ini juga gw keinget istilah "passive-agressive". Sering denger tapi gak pernah tahu artinya apa. Salah satu kebiasaan yang dicopy dari dia adalah kalau gak tahu ya googling lah, kebiasaan milenial yang sangat berharga di jaman teknologi (Mbah Google ftw!). Lalu gw pun membaca informasi yang mindblowing. Whaaat, passive-agressive ini mah aku banget. Semakin dibaca semakin relatable tapi juga semakin ngeri karena banyak banget flawnya dan itu gak bagus.

Tengok artikel ini deh. Ibarat baca hasil tes personaliti rasanya.

Tapi ya, passive-agressive ini adalah common behavior di banyak orang, seluruh dunia. Artinya ada banyak orang "bermasalah" kayak gw gini. Maksudnya gw gak gila itu, cuma bengkok.

But then, knowing my personality, my flaw, my "crooked" mindset, itu penting sih. Lebih penting lagi tahu gimana cara benerinnya. Lebih lebih penting lagi mau dan mulai benerin. Telat? Here's Sansa Stark speaks for me.



Oke, nulis ini gw pun gak boleh lama-lama. Oh ya di awal tadi mention "selama wiken ini", actually ada beberapa hal kayak membuktikan 2 poin di atas, dan itu kaya enhance the experience aja karena Jumatnya dikasih tahu besokannya kayak dikasih lihat contoh nyatanya.

I believe everybody has their own struggle. Semangat, semuanya! Selama masih hidup, artinya kita masih dikasih kesempatan untuk belajar. *ngomong sama diri sendiri (2).

Cheers!