Sunday, May 28, 2017

Dari Parenting Ke Poliphili

As promised, gw akan me-review dikit soal buku yang kemarin dibaca.

Yang duluan dibaca adalah buku tentang si Kirana yang gemesnya mencuri perhatian orang di Instagram. Dari cara ngomongnya, Kirana ini mengingatkan gw akan keponakan sendiri jadi awal-awal hype Kirana, gw ga ikutan karena biasa aja dan merasa she's another instagram baby (like, really, sekarang instagram isinya bayi semua). Tapi ketika dilihat-lihat--dan karena ibuknya Kirana ini rajin banget upload video jadi muncul terus di explore, selain karena banyak yang ngelikes--cara berinteraksi mereka lucu juga sehingga gw follow dan pada akhirnya ketika beliau nulis buku, beli juga bukunya. Haha. Udah ikutan mainstream banget.


Isinya kaya apa? Basically adalah pengalaman ibuk (that's how Retno Hening writes it and called by) Kirana dari hamil sampai Kirana berusia 3 tahun ini. Retno Hening's parenting way adalah perpaduan antara ajaran Islam dan ya parenting method. Jadi ketika gw--yang belum nikah dan belum punya anak ini--baca jadinya relate to something else, which are soal bagaimana pasrah dan percaya sama Allah, dan tentang komunikasi.

Tentang komunikasi ini menarik sih. Gw sejujurnya bukan tipe orang yang suka bayi dan anak kecil, I mean kalau gw bisa melakukan hal lain, gw akan choose it over babies. Tapi seneng juga sih liat anak kecil lucu. Tapi intinya, ngajak ngobrol bayi dan balita itu penting ("yaiyalah, wa, lu aja ga tau," teriak ibu-ibu). Mbak Retno ini, yang punya pengalaman jadi guru PAUD, selalu menganggap Kirana ini human being yang ga cuma perlu disayang tapi juga dihargai dan dihormati sebagai manusia, meskipun Kirana ini anaknya, masih bayi pula. Salah satunya misalnya, serius menanggapi dan ngajak ngobrol ngga dicadel-cadelin. Kata "terimakasih" dan "sorry" bertaburan di setiap dialog mereka. Dan yang menurut gw paling menarik adalah ibuk Kirana ini selalu state perasaannya ketika sedih maupun senang, sehingga si anaknya jadi berempati. Kirana jadi tahu apa yang dilakukannya punya dampak.

Telling others that their action has an effect menurut gw bisa banget diaplikasiin ke hubungan antar personal. Ke pasangan, misalnya. Hanya saja ya orang dewasa mah malu kalo ngga kebiasaan dari kecilnya. But, setidaknya ini yang paling gw ingat dari buku Happy Little Soul ini dan semoga gw masih inget kalo gw nanti dipercaya jadi emak. Hihi.

Setelah baca Happy Little Soul yang butuh beberapa hari untuk beres ini (segitunya kalo lagi malas baca), gw randomly--sembari nungguin temen kantor untuk solat jamaahan--browsing buku-buku yang ada di musola. I put my hand randomly and pulled out a book, lihat judulnya, "hm menarik", udah aja dibawa pulang. Demi agar supaya memaksa gw untuk baca.

Ini penampakannya;

Terus gimana? Duh gimana ya. B aja sebenernya.

Intinya buku ini menceritakan bagaimana mahasiswa Princeton, Tom dan Paul, berusaha memecahkan kode di buku/manuskrip jaman Renaisans yang judulnya "Hypnerotomachia Poliphili". Izinkan gw ngomong ini dengan basa Sunda: hayang siga Da Vinci Code tapi hayang romance oge, kan bingung. Riset soal Hypnerotomachia ini adalah tesisnya Paul, dan Tom (sudut pandang orang pertama yang menarasikan keseluruhan cerita di buku) adalah temen baiknya yang ikut bantuin. Mereka jadi temenan karena si Tom ini adalah anak dari profesor yang sama-sama punya obsesi pada manuskrip yang dibikin tahun 1400an itu.

Yang gw ga suka adalah mungkin karena ini settingnya Amrik banget dan ketika hal-hal yang bule banget diterjemahin, jadinya lawak dan sebenernya sekarang personally agak kurang suka dengan buku terjemahan. Padahal dulu baca Harry Potter ketujuh-tujuhnya terjemahan sih tapi betah-betah aja which leads me to another flaw. Gw bingung baca buku ini, jadi dia kadang nyeritain masa lalunya Tom, nyeritain hubungannya Tom dengan pacarnya, Tom dan temen-temennya, dan balik lagi nyeritain tentang si Paul yang gigihnya memecahkan kode. Gitu aja berulang. Tense-nya kurang terbangun, bahkan ketika ada pembunuhan kok ya rasanya gitu doang.

When I was half way in this book, gw rasanya pengen udahan aja tapi gw harus menyelesaikan apa yg gw mulai dan gw suka merasa dosa aja gitu kalau buku dibaca setengah. Mending ga baca sama sekali atau tuntas sampai akhir. Gw pun cepat-cepat (untuk ukuran gw) nyelesein buku ini. Juga karena buku ini kan nyeritain soal manuskrip jaman Renaisans "jahiliyah" dan bulan Ramadhan sudah di depan mata, gw pengen bukunya selesai sebelum masuk puasa. Karena ga nyambung aja gitu di bulan puasa gw baca soal penelusuran makna sebuah manuskrip buatan manusia Italia when I should be studying Qur'an instead.

Inti bukunya menurut gw baru muncul dan menjadi menarik di 6 bab terakhir (24/30); pemecahan kode dan isi dari si Hypnerotomachia ini. Another classic Renaissance tale sih, which is selalu menarik dan intriguing. By the way, Hypnerotomachia ini really do exist. Seperti yang dijelaskan penulis di bukunya, the ancient book consists of many languages, sometimes made-up languages and even hieroglyphs, telling about the journey of a man chasing a woman he loves. And yes, the complexity rose a hypothesis that the book is actually not about the adventure, but it is believed hold a hidden message.

When you search "Hypnerotomachia Poliphili", it'll look like this;


The old stuffs bagi gw selalu menarik. Tapi The Rule of Four ini, ketika banyak patch-patch yang ingin dimasukin, jadinya kurang terjahit dalam membentuk plot dan tense. Well at least they published a book--ngomong sama diri sendiri.

So, what book do you guys read right now? Let's share the world.

Cheers!


Saturday, May 27, 2017

Reading Keeps Me Sane

I promised myself to read one book in a month.

That began in 2015 when I observed one of my old friends that also like to read and write (bedanya dia waay much better in writing--wait when I think about that, he is good at logical English essays, the emotional wordy-jumbling writings masih lebih juara gw, haha jumawa). He reads a lot. Gw jadi malu sendiri kalau menyebut diri sendiri "writer" tapi masa baca bukunya bolong-bolong. So, gerakan #abookamonth itu gw konsistenkan sejak itu.

Tapi tentu saja yang namanya Hawa Firdausi ini gudangnya kesalahan dan khilaf. Semenjak 10 bulan yang lalu, kegiatan itu mulai tersendat. Kepotong liburan ke Belanda-Jerman lah (sok iye banget kedengerannya haha), walaupun masih ngusahain baca di pesawat, mumpung long flight. Berangkatnya sih enjoy, pas pulangnya the most dehydration state I've ever been jadi ga enjoy bacanya (nanti gw share deh soal puasa di pesawat). Kepotong gw di kerjaan yang baru lah. Dan yang paling kerasa adalah kepotong emosi gw sendiri. Banyak alasan lu, wa. Iya emang sih.

Terutama ketika kepotong sama emosi gw sendiri itu, gw rasanya kehilangan diri sendiri dengan tidak membaca. I lost my intuition to write--well I write everyday for work, but not for the soul. Ketika gw merasa "tidak bisa" menulis, itulah tanda-tanda bahaya. Karena menulis adalah satu-satunya daya jual gw. Untuk apply-apply S2 juga bahaya, karena banyak sekali syarat yang mengharuskan gw nulis, dari hati pula kan (motivation letter dan kawan-kawannya). Makanya, sebelum gw menjadi gila, maka gw kembali ke jalan yang benar dan mulai force myself untuk baca lagi.

Karena bener deh ya, jaman segala instan gini--udah kaya generasi baby boomers belum gw ngomongnya?--berita instan kaya Line Today, video-video instan, status di sosmed, bikin orang keenakan, jadi ketemu teks panjang tuh rasanya males. At least itu terjadi di gw yang belakangan sangat ketagihan Instagram. Damn you, Instagram!

Eh ini originally mau ngomongin apa ya? Gw kan mau share soal buku yang gw baca untuk bulan Mei ini malah ngacapruk (Sundanese for 'ngelantur'). Intinya, bagi gw, dengan membaca, sense of writing gw terbangkitkan. Dan ketika sense of writing terbangkitkan, gw bisa nemu diri sendiri. Itu aja. Ngga maksud sombong "sok iye banget pengen dikatain pinter karena baca buku". Tapi cara inilah yg bikin gw bisa terus bergerak dan merasa berharga. Cara kalian pasti beda-beda. Doesn't matter, asal tidak saling menuduh.

By the way, these are the books:


Happy Little Soul by Retno Hening
The Rule of Four by Ian Caldwell and Dustin Thomason

Reviewnya gw tulis di next post deh, karena yakin pasti bakal lebih ngacapruk lagi.

Cheers!

Sunday, March 26, 2017

Cinta, Cita-cita, dan Realita

Apa kesamaan antara La La Land dan Galih & Ratna?

Image result for la la landImage result for galih dan ratna

Me and Venes as cinema buddies sepakat bahwa keduanya bercerita tentang cinta, cita-cita, dan realita. Berapa banyak cerita kehidupan yang melibatkan ketiganya dan kemudian terjadi konflik akibat tarik-menarik antara ketiga hal ini? Ada banyak, gw yakin. Dan itulah kenapa kedua film ini sangat realistis, manis sekaligus pahit. Have you guys watched them?

Mungkin basi sih kalau review La La Land sekarang. But I haven't stated it, so here I am: I LOVE IT. From the moment I saw the trailer, I could feel that this is gonna a brilliant movie and it is! The musical expression is one of a kind and I think all the scores are the story itself. My favorite scenes are the planetarium and the epilogue scene. The emotions are right there in the tunes of piano, bass, saxophone, and other musical instruments in the big band. Genius.



Plotnya sih not that extraordinary but RELATABLE. I don't care for spoiler alert though. Mia and Sebastian are two people who found similarities and comfort in each other then yes they fall for each other. They have their own dreams and struggling to make it comes true. It's not easy and they have their ups and downs, but eventually they realize in order to pursue the dreams, jalan mereka sudah tidak bisa dipaksa sama lagi. HIKS. Tapi ya gitu, namanya juga hidup. When the movie was about to end, and Mia and Sebastian exchanged the looks, I was squealing inside; "God, they used to be close to each other, supported each other, but then separated for the greater good~"

Sama halnya kemudian ketika nonton Galih & Ratna. Tidak sebrilian La La Land sih. Ini gw antara malu juga nonton ini karena berasa anak remaja (menolak kenyataan bahwa 2 tahun lagi gw menjadi 30) tapi penasaran karena gw anaknya murah sama iming2 review. What actually got me was the soundtrack. Meskipun gw sebel sama vibe AGJ (Anak Gaul Jakarta) dari GAC tapi tidak bisa dipungkiri kalau mereka punya suara dan aransemen musik yang bagus.





Anyway, cerita Galih & Ratna ini berpusat pada kehidupan Galih dan Ratna (you don't say)--anak SMA yang suka-sukaan (jijik ga bahasa gw) tapi pada akhirnya harus berpisah karena, guess what, mereka harus mengejar cita-cita mereka masing-masing. As you may know, this movie is a remake of Galih & Ratna tahun 70an. Di cerita aslinya, bapaknya Ratna menentang hubungan anaknya dengan Galih karena ga "setara" secara status sosial dan akhirnya mereka berpisah karena Ratna dijodohin sama orang lain.

Di cerita Galih & Ratna versi milenial ini, mereka punya kesukaan yang sama, yaitu musik. Galih convinced Ratna kalau dia berbakat nyanyi dan Ratna encouraged Galih untuk bikin toko kasetnya hidup lagi (the thing that Galih wants so bad). They also have their ups and downs, tapi pada akhirnya, kenyataan berbicara. Ada jalan hidup yang mengharuskan mereka untuk memilih, ada tujuan harus mereka kejar--dan realita tidak menjadikan garis-garis itu bertemu.

Cinta dan cita-cita terdistorsi dalam bangun ruang bernama realita. Garis takdir yang bersinggungan tapi tak menjadi satu. Terpengaruh sejenak untuk menjadi pribadi yang tak lagi sama. Menyimpan kenangan yang menjadi kolase cerita. Berpisah untuk menjadi lebih baik, demikian realita berkata.

Woah, why am I being so deep? :)))

Ya udah gitu aja review melankolis gw tentang 2 film ini. Anyway, Galih & Ratna ini ringan seringan chiki tapi ga malu-maluin kayak FTV kok. Mau nonton mangga, ga mau nonton juga ga salah. Jadi, kamu terakhir nonton film apa? How did it make you feel? Film bagi gw adalah perayaan kehidupan dan film yang bagus patut diapresiasi. Nonton apa lagi ya nanti? :)

Cheers! 

P.S: Our story is not easy as well, Kinci. Apakah garis takdir kita bisa bersatu?

Thursday, March 23, 2017

Rehat Sejenak

Sepertinya gw sedang mengalami writer's block.

Dengan pekerjaan gw sebagai tukang nulis tentu saja hal demikian adalah bahaya. Biasanya, nulis--well, not necessarily writing, but typing--adalah sesuatu yang comes natural to me. Inilah kenapa gw mengidentifikasikan tulisan gw adalah tulisan yang dipicu oleh rasa karena when it comes from a "feeling", hasilnya pun akan maksimal because I put myself in it. Ketika gw harus menulis sesuatu yang tidak melibatkan hati, maka gw akan kesulitan dan take a loooooooooooooooooong time to make it done. Even when it's finished, I didn't proud of myself. Haha, emotional writer. Whereas the world doesn't always count on feelings. Sigh.

Ah, maybe I need some times to break. That's why I take my paid leave two days early before my departure to Semarang. Oh yes, I'm going to Semarang this Saturday evening all by myself! Woooo, so excited!

I promise myself to write a summary of my solo trip in this blog. Semoga bukan sekedar wacana.

See you soon, Semarang!

Friday, March 17, 2017

Habis Bensin

It's been almost six years since I entered this jungle that's called life.

Kalau menurut konstitusi usia dewasa itu adalah 17, kalo menurut gw pribadi, gw mulai dewasa umur 20. Dan, hidup yang sebenarnya dimulai ketika lulus kuliah, umur 22. Karena kuliah, bagi gw, adalah perpanjangan dari masa pendidikan wajib. Orang--yang gw lihat secara naif di lingkungan sekitar--menjalani S1 karena wajib. Selesai itu, barulah mereka punya kendali mau melanjutkan apa dengan hidupnya. Karena kemudian, pilihan-pilihan yang diambil sangat beragam. Ada yang nikah, ada yang lanjut sekolah, di luar dan di dalam negeri, ada yang kerja, di  luar dan di dalam negeri, ada yang melanjutkan bidangnya, ada yang melanjutkan sedikit berhubungan dengan bidangnya, dan ada yang mengambil jalur baru sama sekali. Maka, sangat tidak adil kalau menyamaratakan timeline karena masing-masing dibesarkan di lingkungan yang beda dan punya prioritas yang tidak sama.

Anyway, that's my personal view. "Telat lu baru hidup di umur 22!" mungkin itu sebagian dari apa yang orang lain pikirkan terhadap pendapat ini. Bodo amat.

And speaking of late, di kondisi gw yang sekarang juga gw belum jadi siapa-siapa. Ada 2 pit stop yang bagi gw adalah accomplishment yang harus gw capai demi bisa jadi siapa-siapa: S2 dan nikah.

My mother be like: "Have you found someone who you can marry yet?"
My father be like: "Have you admitted to a master course yet?"

Gw berpikir kalau gw udah punya 2 hal itu, masalah akan selesai. Padahal dengan menambah responsibility di 2 hal tersebut, masalah-masalah lain yang mungkin lebih besar sudah menunggu. Tapi setidaknya, gw sudah ga berhutang lagi ke orang tua gw.

Lalu? Kenapa belum kesana?

Gw habis bensin. Gw ga tau apa yang bikin gw habis bensin dan kenapa itu bertepatan sekali dengan pekerjaan gw disini. Rasanya cape ga beres-beres, padahal produktivitas menukik jauh. Gw kehilangan fokus dan semangat untuk memulai lagi. Tapi kemudian--karena ga ada yang akan menolong diri sendiri selain gw sendiri--gw berusaha untuk menata kembali tujuan gw. Meskipun gw ga tau apa itu. Mungkin gw telat, tapi toh kesempatan hanya dikotak-kotakan oleh manusia sendiri. Gw meyakinkan diri sendiri kalau ada ribuan cara disana yang bisa dicoba, asal cara-cara tersebut bisa mengantarkan ke tujuan.

Bukankah tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi?

Cheers!