Friday, August 4, 2017

Final Day!

Woah, this is the last day of #31dayswritingchallenge!

So, how was it?


  • I made 30 blogposts which mean I skipped only 1 day. To be honest, hari skip nulis itu malamnya memang ngantuk sih tapi gak bener-bener ngantuk sampai gak bisa mengusahakan untuk nulis. Saat itu kayak 50% ngantuk, 50% sengaja untuk mencoba "bolos". "Kayak gimana ya rasanya ditilang?" :p. Karena ada hari yang justru malemnya capeek banget tapi masih ngusahain nulis. Bahkan ada yang sempet ketiduran terus bangun jam 23.45 dan akhirnya bisa ngeposting.
  • Apakah semuanya original? Yep, semuanya ditulis hari itu juga, malah mepet banget ke waktu deadline. Gak nyimpen tulisan dan nge-set jadwal. Gimana mau numpuk tulisan, bikin 1 aja nyari idenya gak gampang. Tapi sebetulnya ada 1 post yang copas dari IG sendiri. Itu terjadi pas yang kebangun jam 23.45 itu terus panik belum nulis. Kalau udah niat gak mau didenda ya maka caranya bisa apa aja sih. :p
  • Selain karena gak mau didenda, juga karena ada satpam yang ngingetin, hehe. Kalau gak ada, rasanya with this self-discipline I'll skip writing 2 or 3 days.
  • Mostly, I started writing at 23.00 til 24.00ish. When it was half done, I published it first at 23.59 then edited it :p. Biasanya sampai jam 00.30 atau 01.00, karena nyari-nyari foto atau video yang relevan. Setelah itu biasanya gak bisa tidur. Either Youtube-an atau baca blog temen-temen lain. Sehingga jadi kebiasaan di 2 minggu belakangan ini tidurnya suka kelewat larut yang berdampak bangun siang. At times, suka sebel kenapa sih ada program yang mengharuskan nulis ini, takes time banget. Yang jawab diri sendiri, "lu-nya aja yang harusnya bisa atur waktu".
  • Kenapa takes time? Karena pengen nulis sesuatu yang gak asal nulis. Dipikirin duluu idenya, kontroversial apa nggak, bahasanya gimana. Tapi gak yang sampe ingin-perfect-banget-maka-lebih-baik-ditilang-daripada-asal. Sebenernya kenapa harus bisa setiap hari kan untuk melatih ngatur waktu, menyerap ide di hari itu, dan menuangkannya dalam tulisan.
  • Blogposts di blog ini memang keitung jarang yak, hehe (sebelum program 31 Hari Menulis). Karena ya itu, biasanya ketika pengen bahas sesuatu, gw akan riset sebelumnya, even just a speck of information in Wikipedia. Although what I write is very much my point of view, but at least there are facts that maybe interesting and supported the topic. Digging data and then put my heart in a piece of writing kadang tidak muncul dalam 1 hari sih. Dan gw gak mau dipaksa nulis aja kalau moodnya lagi gak pengen nulis. Rasanya kalo tetep nulis pas moodnya gak ada tuh seolah menampilkan "dapur" pikiran gw yang ribet. Nah tapi kalau gak ada sistem denda gini, moodnya ya jarang datang. :p
  • Apakah besok-besok masih rajin nulis? Hmmm, yang pasti tidak akan menghasilkan 1 tulisan per hari sih, hehe. Mungkin bisa nanti, tapi sekarang belum. Sekali seminggu? Seems good enough. #bukananakambisius
  • Membaca tulisan temen-temen yang lain, gw jadi merasa bahwa blog ini pun berpotensi untuk dibaca banyak orang--which then leads me to: penggunaan bahasa dan cara bertutur yang dibikin lebih "rapi" lagi ke depannya. Blogwalking juga tentu saja jadi bisa melihat sisi lain dari temen-temen.
Anyway, thanks Pak Bos yang punya ide bikin challenge ini. Terimakasih temen-temen yang sudi mampir dan baca di mari. Semoga "kita versi tulisan" bisa saling merindukan satu sama lain dan saling berkunjung ya. Alhamdulillah dan bismillah. Yuk, jadi cerdas dengan menulis. :)

Besok Lebaran, yeaay!

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day31 #FINALDAY

Thursday, August 3, 2017

Tanpa Nama

Tanpa nama lahir di dunia.

Hidupnya penuh rahasia sekaligus terbuka. Tipe manusia yang tidak keberatan diajak duduk berhadapan atau berdampingan, yang tidak rewel berjalan di atas lantai marbel licin atau meniti jalan setapak penuh tanah basah. Namun tetap kita tak dapat menemukan jiwanya.

Rumahnya yang dibangun jauh dari bingar mesin membuat manusia lain sungkan untuk datang. Tapi indahnya membuat orang ingin berkunjung, meski perjalanan kesana harus melewati jalan yang mengular. Hatinya hangat tapi membeku ketika disentuh.

Beredar sosoknya di masyarakat, menjadi bagian dari populasi yang butuh makan. Dengan pedang ia terabas tanpa takut. Bergerak dengan rencana yang tergenggam di tangannya. Tidak ada yang janggal, tapi tidak ada yang mengerti. Sendiri adalah metode bertahan hidup yang terbaik, sampai ada manusia lain yang secara genetik adalah duplikasinya.

Tanpa nama. Tercetak dalam ingatan, terbingkai dalam malam, terucap dalam kiasan.

--

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day30

Wednesday, August 2, 2017

Dicintai atau Dipercaya?

Nah, kalau hari ini Hari Berpasangan beneran. :p

Hari ini tandemnya adalah Mas Dimas yang dari tulisan-tulisannya bikin iri karena tulisannya menarik dan gagasannya rapi. Bisa bikin sajak pula. Licik. You shouldn't be good at writing, Mas, cukuplah kau jago lobbying and public speaking, jangan semuanya jago. Hihi, canda. :p

Setelah lihat-lihat postingannya beliau di Tumblr, ada yang kayanya menarik untuk share dari sudut pemikiran aku. In a post titled "Balada Si Pecinta", he wrote,

"What will you choose? To be loved or to be trusted?"

Lalu aku mikir, nanya ke diri sendiri, "lu mau dicintai atau dipercaya?". Hmm.

Kalau menurut Mas Dimas, lebih baik dipercaya karena dengan dipercaya, dalam konteks sebuah hubungan, akan menghasilkan efek-efek yang lebih baik ketimbang mencintai. Simak tulisannya;

Coba saja lihat orang yang sedang jatuh cinta.. jika ia bertumpu pada rasa cinta pada kekasihnya.. maka hal itu akan berkurang manakala sang kekasih sudah tidak mampu memenuhi kebutuhannya.. dan akhirnya yang muncul hanya rasa kecewa..
Tapi.. coba kau pikirkan kalau yang dikedepankan adalah rasa percaya.. dan bukan sekedar cinta.. apapun yang terjadi.. pasti tidak akan mengubah pandangan dan kesetiaan si pecinta pada kekasihnya.. ya boleh dibilang.. dalam hal ini cinta adalah sesuatu yang relatif.. tetapi rasa percaya adalah keteguhan hati.. yang sifatnya nyaris absolut..


Kalau pertanyaannya apakah aku mau dicintai atau dipercaya? Jawabannya ya pasti dua-duanya :p.

"Dicintai atau dipercaya" konteksnya luas sih. Jawabannya juga bisa beda-beda tergantung konteks dan kondisinya. Oke, ambillah dalam konteks sebuah hubungan.

Skenario "dicintai tanpa dipercaya" bisa kejadian kalau misalnya si suami cinta nih sama si istri, tapi gak ngasih kepercayaan untuk megang uang, gak percaya kalau si istrinya bisa kerja tanpa meninggalkan kewajiban sebagai istri, atau curigaan tiap kali si istrinya arisan, was-was istrinya ngabisin uang. Kan gak enak juga yah.

Skenario "dipercaya tanpa dicintai" yaa gimana ya kalau dalam sebuah romantic relationship. Jadi kayak bisnis doang kalau percaya tanpa rasa. Misalnya, si suami ini percaya banget istrinya solehah banget, mau diajak susah. Tapi kalau cuma percaya doang, kebayang ada dialog, "kita lagi susah, aku percaya kok kamu bisa makan Mylanta sebulan". Lah minta dikemplang dia. Maksudnya kalau si suami mencintai istrinya ya dia akan cari cara gimana biar hidup dia dan istrinya gak melarat-larat amat. Atau kalau dalam kebalikannya situasi di atas, misal si suaminya percaya banget kalau istrinya bisa kerja tanpa meninggalkan kewajiban. Tanpa cinta, mungkin aja si suaminya bakal gak jadi partner dalam "pekerjaan rumah" kayak masak/nyuci/beberes karena kelewat percaya si istri bisa handle semua. Tapi dengan cinta, si suami bakal sayang, care, dan perhatian ketika misalnya si istrinya baru pulang sore, dia inisiatif untuk pesen makan dari luar.

Jadi ya aku sih pengen keduanya. Loved to be trusted, trusted to be loved.

Nah, kalau dibalik pertanyaannya: do you love or trust?

Aku setuju sih kalau "cinta" doang kesannya hanya lust tanpa dasar. Kalau "percaya" berarti kan ada sesuatu yang gak keliatan secara fisik yang mungkin lebih ke attitude jangka panjang. But I believe when I'm with someone, ya harus ngasih keduanya sih. I, too, should love and trust. Dari tadi aku kepikiran apa yang dulu pernah diceletukin Mas Dipo (ex graphic designer-nya eFishery),

"Cowok itu harus dikasih kepercayaan, Haw."

Hmm. Yang kemudian aku benarkan sih dalam hati. Katanya, ada pride dalam diri laki-laki yang terluka kalau merasa gak dipercaya, sama lah kayak perempuan yang butuh diperhatiin. Tapi, menurutku antara "cinta" dan "percaya" itu saling terkait sih, dan yang terpenting ketika kita melakukan keduanya, pastikan aja terkomunikasikan dengan baik. Kita melihat dari kacamata kita yang seringnya berbeda dari kacamata orang lain. Jadi apa yang menurut kita A, bisa disalahartikan jadi B di sudut pandang lawan. Kita melakukan A karena we think that's the usual and ideal condition, and we want others to do the same, padahal kan gak bisa menyodorkan semuanya.

Sekian dulu ilmu relationship sotoy seharga baso ikan dari saya malam ini.
Sekian dulu pandanganku akan post-mu, Mas Dim. Nanti nulis soal resensi film gitu aja lah biar gampang ditanggepin, haha. Yaudah, sudah malam nanti terus ngelantur.

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day29

Tuesday, August 1, 2017

Hello, Real Reggy!

Meskipun hari ini gak berpasangan, aku mau inisiatif sendiri ah nulis tentang salah satu partisipan 31 Hari Menulis ini, sekaligus partner kerja yang duduknya sebelahan. Halo, real Reggy! :))

Pemilik nama akun yang bikin kita bertanya-tanya apakah ada "fake Reggy" ini adalah desainer grafis-nya eFishery sejak Januari (eh apa Desember ya, gy?). Sebelum ketemu orangnya aja, Pak Bos dan Ibu HR sudah diclaimer kalau calon desainer yang baru ini anaknya nyablak dan polos banget. Bener aja. Pas waktu hari pertama dia masuk, setelah sesi sama HR, siangnya doi tiba-tiba nyamperin,

"Kak, aku disuruh duduk deket Kak Hawa, katanya."

Lah, siape nih? Datang-datang bukannya kenalan tapi minta duduk sebelahan. Tapi karena reputasimu udah nyamper duluan jadi aku gak aneh sih, gy. Wqwqwq.

Semenjak itu, aku teracuni dengan kerecehan Reggy yang hqq. Cara ngetik aja kayak langsung terpengaruh gitu kalo ngomongin beliau. Kata Eggy (panggilan sayangnya), "wqwqwq" lebih gampang daripada "wkwkwk" karena w dan q sebelahan. Iyain aja deh. Terus entah karena sehari-harinya bergaul sama dia atau di IG aku emang follow akun macam @komikin_ajah yang banyak kosakata macam "tercyduk", "y x g kuy", inputan kerecehan ala milenial aku jadi banyak.

Layaknya orang-orang kreatif, Reggy juga seolah punya dunia sendiri gitu. Kalau udah pasang earphone, Reggy akan bekerja di realm-nya dia dengan playlist shuffle yang kutebak pasti isinya jarang diganti. Dia juga sering banget menyuarakan apa yang dibacanya karena menurutnya dengan begitu jadi lebih paham. Jadi jangan aneh kalau tiba-tiba dia ngomong sendiri terus ketawa sambil baca sesuatu di layar handphone-nya. Atau misalnya terlibat dalam percakapan tak berfaedah seperti,

Temen ngajak jamaahan: "Reggy, sholat gak?"
Reggy: "Siapa?"

Lah, gimana. :)))

Tapi, meski dengan ke-absurd-annya itu, aku sih respect dan hepi bisa kerja bareng Reggy. Respect karena aku yakin sama skill-nya. Porto-nya bagus, rapi, dan bisa bikin copy yang kadang gak kepikiran tapi on point. Eggy juga kerjanya cepet, dia bakal nanya seperlunya terus sat set sat set jadi deh brosur, logo, infografis, video, template foto. Hasilnya minim revisi karena secara garis besar udah mencakup apa yang diminta.

Kadang, Eggy juga wfh (work from home, one of the advantages working in eFishery :p) mostly karena gak punya baju. Ajaib kan. Tapi beberapa kali juga dia wfh karena butuh stimulasi audio yang maksimal alias pengen bebas dengerin lagu sambil nyanyi-nyanyi. Kalau itu dilakukan di kantor kan nantinya meresahkan warga. Nah, di situ yang aku sama Reggy sangat berbeda. I work best and focus ketika kondisi lingkungan kerja gak ada noise yang mendistraksi, karena dengan begitu aku bisa menyusun ide dan menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan. Sedangkan Reggy butuh musik yang disetel keras biar dia semangat dan fokus kerja. Harus saling pengertian ya, gy, hihi.

Kalau lagi "wfh pagi, cikutra siang" terus pas mau berangkat ke kantor ternyata hujan, suka setor muka dulu doi.
Walaupun berseberangan gitu, sebenernya aku sama dia sama-sama introvert. Siapa yang sangka anak yang keliatannya bocor dan haha-hehe ini adalah seorang introvert? Tapi, memang ternyata kalau dilihat dari sifatnya, Eggy ini introvert. Sama-sama suka bingung dengan keramaian yang asing, lebih baik sendiri daripada harus banyak berinteraksi, tapi kalau udah berinteraksi dengan orang-orang yang nyaman bagi kita, jadi keluarlah asli-aslinya. Kita juga gak masalah dengan kesendirian, karena otak introvert bekerja dengan baik ketika punya banyak waktu dengan dirinya sendiri. Tapi at times pasti butuh masukan dan diskusi sama orang lain yang enak diajak ngobrol juga. Oh, kita juga sama-sama susah mengungkapkan maksud dengan verbal. We introverts speak better without speaking. :p

I can value her juga karena ada sewaktu-waktu gitu yang dia encourage ketika aku ngeluh sesuatu, dia bakal bilang kayak "gak apapa, kak.. kan gini gini gini". Entah karena emang baik atau kebanyakan mantengin videonya Kirana jadi kepengaruh :))). Terus kalau baca tulisan-tulisannya, sebetulnya Eggy juga deep dalam berpikir, tapi ya dengan style-nya yang ringan, seringan uang kertas 500-an jaman dulu. Ampun, gy. :)) 

Real Reggy inu juga adalah artis yang karyanya direpost sama @dagelan, @komikin_ajah, dan bahkan @ridwankamil. Nih salah satu komik yang dia bikin, collab cerita sama aku:




Yang mau minta dibikin-bikinin sama Eggy ini harap mengantri karena orderan sampingannya banyaak, hihi.

Masih banyak sih hal yang bisa di-share kalau ngomongin doi mah. Tapi sekian dan terimakasih dulu deh untuk di postingan ini. Boleh banget berkunjung ke halaman blognya untuk input kerecehan harian Anda, atau cek IG-nya untuk lihat karya-karyanya yang lain.

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day28

Monday, July 31, 2017

Makan Ikan

Cuma 2 jenis makanan yang gw gak suka: yang gak ada rasanya dan yang ribet dimakan.

Dengan asas poin kedua tersebut, maka ikan utuh termasuk makanan yang gak akan dipilih kalau ada di menu. Beda cerita kalau ikannya udah di-fillet atau dalam bentuk nugget yang tinggal hap, gak mesti mikir. Kalo ikan utuh tuh males banget gitu rasanya kalau harus mretelin duri-durinya yang kecil, yang kadang bersembunyi gak keliatan di antara daging. Ketika lagi lapar pengen makan malah jadi peer lagi gitu untuk ngeluarin duri-durinya. Mending kalau dapet, ini pernah nyangkut di tenggorokan jadi sakit banget kalo nelen. Akhirnya bisa diambil walaupun drama.

I'd rather not :p (source)

Tapi itu dulu, sebelum di eFishery. :p

Sekarang, setelah banyak baca dan denger soal dinamika petani ikan gitu, gw jadi bisa mulai menghargai jerih payah mereka menghasilkan ikan konsumsi. Menghargai dengan memakan apa yang mereka hasilkan. Yang mereka hitung pakannya setiap hari. Yang mereka pikirkan kesehatannya. Yang mereka pikirkan kualitas airnya. Caranya ya dengan mau makan ikan. Terutama ketika tim bikin konten "yuk makan ikan" terus rasanya hipokrit kalau sendirinya gak makan ikan. Maka, sekarang sih udah mau "ribet" makan ikan. Tadi malem aja kebetulan banget tuh menunya ikan nila bumbu kuning.

Nah, kalau nila enak sih, durinya gede-gede jadi gampang untuk misahinnya dari daging. Ikan mas yang emang agak peer karena durinya kecil dan halus tapi kalau nyangkut berasa bisul gak enaknya. Lele masih okay-ish. Karena lele kan biasanya tasty ya bumbunya jadi terbantu lah dengan mengecap bumbunya dulu selagi susah ngambilin duri-durinya. Mackerel, tuna, salmon gitu mah jelas sih enak dan gak ribet, secara serving portionnya gak akan sampai ke duri. Ikan medium (10 cm-an) masih gw skip karena ukurannya nanggung dan biasanya 50:50 antara duri/kepala/jeroannya dan daging yang bisa dimakan. Ikan baby oke lah kalau digoreng kering, lumayan pengganti kerupuk.

Kalau gini kan enak ya tinggal hap :p (source)

Ikan, terutama yang dibudidaya, ini diprediksi akan jadi ayam-nya pangan masa depan. Kenapa? Karena dalam area luas yang sama, one can produce more fish dibanding hewan pedaging lain. Mass production in a gigantic number is very much needed for our growing population. Jadi, kalau gw mau jadi world citizen yang sumber proteinnya dari ikan, dari sekarang harus mau makan ikan. Tapi kan kalau dibikin fillet mah I'd love to aja sih. Yaa, setidaknya ngelatih diri sendiri yang punya prinsip "gak mau ribet" ini. :p

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day27