Monday, September 25, 2017

I'm a What?

Wow, jadi selama wiken ini (terhitung dari Jumat malam), gw merasa banyak mendapat pencerahan terhadap sifat gw selama ini. Like, what, lu baru sadar sekarang? Ngapain aja 27 tahun ke belakang? Berarti apa yang gw lakukan selama ini salah dong? Woah, jadi panik. Gak 100% panik sih, karena sebagian dari itu adalah excitement dalam mempelajari diri sendiri--karena selalu ada hal yang menarik kalau udah menyangkut perilaku orang.

Jadi, hari Jumat kemarin ceritanya gw ini dicarekan. Disemprot. Dinasehatin. Ya, you name it.
Awalnya adalah yang gw mulai notice dari beberapa hari yang lalu kalau kebiasaan buruk yang gw lakukan selama ini akan berdampak lebih buruk lagi ke habit dan hidup secara general. Gak mau efek domino ini berlanjut, gw pun segera ngomong sama diri senditi, " oh ini gak bener sih, I need help". Jadilah gw curhat sama dia. Karena beda sih ya kalau curhat sama cewek lagi, apalagi yang deket, pastinya digulain. Malam itu, gw digalakin *insert emoji ketawa tapi nangis*.



Intinya, dari situ, yang bisa diambil sebagai saran adalah:

1. Gw ini perfeksionis but not in a good way

Karena topiknya kemarin adalah soal kerjaan, jadi contoh perfeksionis disini adalah ketika I want a make a good piece of writing.

Di mindset gw adalah, gw ingin deliver sesuatu itu dengan baik. Pantang ngasih draft karena, salah satunya, ngerjain the whole thing sama yang nyicil-nyicil itu feelnya beda. Padahal katanya kan "continuous improvement is better than delayed perfection". Nah, definisi "dengan baik" itu kemudian I put a lot of effort to make it good, but then I get lost in the process. Kata dia, kalau nyari sumber jangan keterusan kayak link Wikipedia (yang buka ini muncul info baru lagi, klik ini muncul info lagi), kecuali kalau memang, misal, 10 sumber can make a significant impact dibanding cuma 3 sumber. Kalau sama aja, ya mending stop di 3 sumber, kupat tahuuuu! *toyor pala sendiri.

Gw banyak mendapat "praise" kalau gw ini orangnya detail. Bungah (seneng) atuh ya namanya dipuji. Tapi sebenernya udah merasa dalam hati kalau perfeksionis ini bukan yang oke gitu, hanya saja belum nemu gimana contoh konkrit gak okenya. Ternyata ya itu, gw sering tersesat pada cara yang inefisien ketika pengen mencapai sempurna.

Hal ini pun terefleksikan ke kehidupan sehari-hari. Contohnya, gw gak mau bales sesuatu yang butuh mikir dan menurut gw harus dibales di kondisi dan susunan kata yang paripurna. Padahal mah cuma si orangnya cuma minta apaa gitu. Misalnya, orang nanya, "udah liat email?". Itu adalah salah satu pertanyaan terserem menurut gw, satu level di bawah "kita perlu ngobrol". Jadi, meskipun gw udah liat emailnya misal tapi belum nemu jawaban yang sempurna maka gw tunda aja jawabnya sampe gw merasa less intimidated. Selama delay itu gw akan merasa gak nyaman kaya ambeien. Setelah berapa lama, gw akan jawab kayak jawab soal esai. Padahal si orangnya mah cukup tau kalau gw udah cek email apa belum, udah, gak wajib dibahas panjang. Nah jadi rugi kan gw gelisah.

Hal lain adalah kayak, gak mau nulis sebelum jiwa dan raga ini terpenuhi dengan baik. Gak mau nyuci sebelum nulis selesai sempurna. Gak mau ngucapin selamat ulang tahun ke temen karena pengen bikin puisi ala Aan Mansyur. Gak mau melakukan ini karena itu belum ada dan belum sempurna. Yah, akhirnya gw nanti akan menunggu saja dan bukan menjalani hidup dan mengambil kesempatan-kesempatan. Hii, serem juga.

2. "Terus, mau nyalahin orang lagi?"

Menusuk rasanya, tapi bener sih.

Ini mungkin lanjutannya perfeksionis yang inefisien tadi. Jadi misal ya, gw pengen nulis itu ketika jiwa dan raga siap. Agar raga siap, gw butuh kupat tahu anget maka pergilah ke warung depan. Eh taunya ngantri banget tuh, gw pun ngabisin 1 jam sendiri untuk ngantri doang. Jam makan siang pun habis, gw pun bete dan bilang,

"orang-orang sih tadi banyak banget, terus ibu yang ngeladanginnya juga cuma sendiri pula, lama banget, sebel."

Padahal kan bisa gojekin aja gitu. Gak perlu nyalahin orang-orang da sarua hayang kupat tahu, apalagi nyalahin ibu yg jualnya. Maksudnya, bisa sih ngedumel karena mungkin hal-hal yang orang lakukan itu emang unpleasant, tapi kita toh gak bisa ngontol mereka mau ngapain, instead kita bisa ngontrol reaksi kita dan memilih untuk deal with it dan keep going menuju tujuan.

Jadi inget kasusnya rekan kerja di kantor yang dulu. Ada temen gw yang ngedumel juga soal sistem dan nyalahin tim karena kurang ini itu. Terus atasan kami waktu itu bilang, "gw tahu ibaratnya kita mau pergi ke Puncak (yang di Bogor itu ya, bukan sekedar metafor) itu idealnya naik mobil biar nyaman, tapi sekarang adanya vespa jadul ya mau gak mau kita pake si motor butut itu buat kesana". Which is actually exactly what the HR said to me regarding my issue at the office.

Stop blaming and stop seeing yourself as a victim. While maybe you have the right to be angry because you're wronged, but better to focus on what you can do, not just throw some rants. *ngomong sama diri sendiri

----

Satu lagi sebenernya adalah tentang "get off of your comfort zone" tapi kemudian gw dari dulu merasa konsepnya abstrak. I mean, I do understand the meaning dan gimana cara mencapai itu, kayak "memaksa" diri untuk melakukan lebih dan untuk "stretching" ke lingkungan yang bisa menempamu lebih baik. Turns out, contoh konkrit di 2 poin di atas lebih efektif karena dari situ gw bisa kebayang "oh contoh nyaman adalah ketika nyalahin orang lain, berarti keluar dari zona nyaman adalah stop blaming dan start to take my own responsibility".

Sebelum nulis post ini juga gw keinget istilah "passive-agressive". Sering denger tapi gak pernah tahu artinya apa. Salah satu kebiasaan yang dicopy dari dia adalah kalau gak tahu ya googling lah, kebiasaan milenial yang sangat berharga di jaman teknologi (Mbah Google ftw!). Lalu gw pun membaca informasi yang mindblowing. Whaaat, passive-agressive ini mah aku banget. Semakin dibaca semakin relatable tapi juga semakin ngeri karena banyak banget flawnya dan itu gak bagus.

Tengok artikel ini deh. Ibarat baca hasil tes personaliti rasanya.

Tapi ya, passive-agressive ini adalah common behavior di banyak orang, seluruh dunia. Artinya ada banyak orang "bermasalah" kayak gw gini. Maksudnya gw gak gila itu, cuma bengkok.

But then, knowing my personality, my flaw, my "crooked" mindset, itu penting sih. Lebih penting lagi tahu gimana cara benerinnya. Lebih lebih penting lagi mau dan mulai benerin. Telat? Here's Sansa Stark speaks for me.


Oke, nulis ini gw pun gak boleh lama-lama. Oh ya di awal tadi mention "selama wiken ini", actually ada beberapa hal kayak membuktikan 2 poin di atas, dan itu kaya enhance the experience aja karena Jumatnya dikasih tahu besokannya kayak dikasih lihat contoh nyatanya.

I believe everybody has their own struggle. Semangat, semuanya! Selama masih hidup, artinya kita masih dikasih kesempatan untuk belajar. *ngomong sama diri sendiri (2).

Cheers!

Friday, August 4, 2017

Final Day!

Woah, this is the last day of #31dayswritingchallenge!

So, how was it?


  • I made 30 blogposts which mean I skipped only 1 day. To be honest, hari skip nulis itu malamnya memang ngantuk sih tapi gak bener-bener ngantuk sampai gak bisa mengusahakan untuk nulis. Saat itu kayak 50% ngantuk, 50% sengaja untuk mencoba "bolos". "Kayak gimana ya rasanya ditilang?" :p. Karena ada hari yang justru malemnya capeek banget tapi masih ngusahain nulis. Bahkan ada yang sempet ketiduran terus bangun jam 23.45 dan akhirnya bisa ngeposting.
  • Apakah semuanya original? Yep, semuanya ditulis hari itu juga, malah mepet banget ke waktu deadline. Gak nyimpen tulisan dan nge-set jadwal. Gimana mau numpuk tulisan, bikin 1 aja nyari idenya gak gampang. Tapi sebetulnya ada 1 post yang copas dari IG sendiri. Itu terjadi pas yang kebangun jam 23.45 itu terus panik belum nulis. Kalau udah niat gak mau didenda ya maka caranya bisa apa aja sih. :p
  • Selain karena gak mau didenda, juga karena ada satpam yang ngingetin, hehe. Kalau gak ada, rasanya with this self-discipline I'll skip writing 2 or 3 days.
  • Mostly, I started writing at 23.00 til 24.00ish. When it was half done, I published it first at 23.59 then edited it :p. Biasanya sampai jam 00.30 atau 01.00, karena nyari-nyari foto atau video yang relevan. Setelah itu biasanya gak bisa tidur. Either Youtube-an atau baca blog temen-temen lain. Sehingga jadi kebiasaan di 2 minggu belakangan ini tidurnya suka kelewat larut yang berdampak bangun siang. At times, suka sebel kenapa sih ada program yang mengharuskan nulis ini, takes time banget. Yang jawab diri sendiri, "lu-nya aja yang harusnya bisa atur waktu".
  • Kenapa takes time? Karena pengen nulis sesuatu yang gak asal nulis. Dipikirin duluu idenya, kontroversial apa nggak, bahasanya gimana. Tapi gak yang sampe ingin-perfect-banget-maka-lebih-baik-ditilang-daripada-asal. Sebenernya kenapa harus bisa setiap hari kan untuk melatih ngatur waktu, menyerap ide di hari itu, dan menuangkannya dalam tulisan.
  • Blogposts di blog ini memang keitung jarang yak, hehe (sebelum program 31 Hari Menulis). Karena ya itu, biasanya ketika pengen bahas sesuatu, gw akan riset sebelumnya, even just a speck of information in Wikipedia. Although what I write is very much my point of view, but at least there are facts that maybe interesting and supported the topic. Digging data and then put my heart in a piece of writing kadang tidak muncul dalam 1 hari sih. Dan gw gak mau dipaksa nulis aja kalau moodnya lagi gak pengen nulis. Rasanya kalo tetep nulis pas moodnya gak ada tuh seolah menampilkan "dapur" pikiran gw yang ribet. Nah tapi kalau gak ada sistem denda gini, moodnya ya jarang datang. :p
  • Apakah besok-besok masih rajin nulis? Hmmm, yang pasti tidak akan menghasilkan 1 tulisan per hari sih, hehe. Mungkin bisa nanti, tapi sekarang belum. Sekali seminggu? Seems good enough. #bukananakambisius
  • Membaca tulisan temen-temen yang lain, gw jadi merasa bahwa blog ini pun berpotensi untuk dibaca banyak orang--which then leads me to: penggunaan bahasa dan cara bertutur yang dibikin lebih "rapi" lagi ke depannya. Blogwalking juga tentu saja jadi bisa melihat sisi lain dari temen-temen.
Anyway, thanks Pak Bos yang punya ide bikin challenge ini. Terimakasih temen-temen yang sudi mampir dan baca di mari. Semoga "kita versi tulisan" bisa saling merindukan satu sama lain dan saling berkunjung ya. Alhamdulillah dan bismillah. Yuk, jadi cerdas dengan menulis. :)

Besok Lebaran, yeaay!

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day31 #FINALDAY

Thursday, August 3, 2017

Tanpa Nama

Tanpa nama lahir di dunia.

Hidupnya penuh rahasia sekaligus terbuka. Tipe manusia yang tidak keberatan diajak duduk berhadapan atau berdampingan, yang tidak rewel berjalan di atas lantai marbel licin atau meniti jalan setapak penuh tanah basah. Namun tetap kita tak dapat menemukan jiwanya.

Rumahnya yang dibangun jauh dari bingar mesin membuat manusia lain sungkan untuk datang. Tapi indahnya membuat orang ingin berkunjung, meski perjalanan kesana harus melewati jalan yang mengular. Hatinya hangat tapi membeku ketika disentuh.

Beredar sosoknya di masyarakat, menjadi bagian dari populasi yang butuh makan. Dengan pedang ia terabas tanpa takut. Bergerak dengan rencana yang tergenggam di tangannya. Tidak ada yang janggal, tapi tidak ada yang mengerti. Sendiri adalah metode bertahan hidup yang terbaik, sampai ada manusia lain yang secara genetik adalah duplikasinya.

Tanpa nama. Tercetak dalam ingatan, terbingkai dalam malam, terucap dalam kiasan.

--

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day30

Wednesday, August 2, 2017

Dicintai atau Dipercaya?

Nah, kalau hari ini Hari Berpasangan beneran. :p

Hari ini tandemnya adalah Mas Dimas yang dari tulisan-tulisannya bikin iri karena tulisannya menarik dan gagasannya rapi. Bisa bikin sajak pula. Licik. You shouldn't be good at writing, Mas, cukuplah kau jago lobbying and public speaking, jangan semuanya jago. Hihi, canda. :p

Setelah lihat-lihat postingannya beliau di Tumblr, ada yang kayanya menarik untuk share dari sudut pemikiran aku. In a post titled "Balada Si Pecinta", he wrote,

"What will you choose? To be loved or to be trusted?"

Lalu aku mikir, nanya ke diri sendiri, "lu mau dicintai atau dipercaya?". Hmm.

Kalau menurut Mas Dimas, lebih baik dipercaya karena dengan dipercaya, dalam konteks sebuah hubungan, akan menghasilkan efek-efek yang lebih baik ketimbang mencintai. Simak tulisannya;

Coba saja lihat orang yang sedang jatuh cinta.. jika ia bertumpu pada rasa cinta pada kekasihnya.. maka hal itu akan berkurang manakala sang kekasih sudah tidak mampu memenuhi kebutuhannya.. dan akhirnya yang muncul hanya rasa kecewa..
Tapi.. coba kau pikirkan kalau yang dikedepankan adalah rasa percaya.. dan bukan sekedar cinta.. apapun yang terjadi.. pasti tidak akan mengubah pandangan dan kesetiaan si pecinta pada kekasihnya.. ya boleh dibilang.. dalam hal ini cinta adalah sesuatu yang relatif.. tetapi rasa percaya adalah keteguhan hati.. yang sifatnya nyaris absolut..


Kalau pertanyaannya apakah aku mau dicintai atau dipercaya? Jawabannya ya pasti dua-duanya :p.

"Dicintai atau dipercaya" konteksnya luas sih. Jawabannya juga bisa beda-beda tergantung konteks dan kondisinya. Oke, ambillah dalam konteks sebuah hubungan.

Skenario "dicintai tanpa dipercaya" bisa kejadian kalau misalnya si suami cinta nih sama si istri, tapi gak ngasih kepercayaan untuk megang uang, gak percaya kalau si istrinya bisa kerja tanpa meninggalkan kewajiban sebagai istri, atau curigaan tiap kali si istrinya arisan, was-was istrinya ngabisin uang. Kan gak enak juga yah.

Skenario "dipercaya tanpa dicintai" yaa gimana ya kalau dalam sebuah romantic relationship. Jadi kayak bisnis doang kalau percaya tanpa rasa. Misalnya, si suami ini percaya banget istrinya solehah banget, mau diajak susah. Tapi kalau cuma percaya doang, kebayang ada dialog, "kita lagi susah, aku percaya kok kamu bisa makan Mylanta sebulan". Lah minta dikemplang dia. Maksudnya kalau si suami mencintai istrinya ya dia akan cari cara gimana biar hidup dia dan istrinya gak melarat-larat amat. Atau kalau dalam kebalikannya situasi di atas, misal si suaminya percaya banget kalau istrinya bisa kerja tanpa meninggalkan kewajiban. Tanpa cinta, mungkin aja si suaminya bakal gak jadi partner dalam "pekerjaan rumah" kayak masak/nyuci/beberes karena kelewat percaya si istri bisa handle semua. Tapi dengan cinta, si suami bakal sayang, care, dan perhatian ketika misalnya si istrinya baru pulang sore, dia inisiatif untuk pesen makan dari luar.

Jadi ya aku sih pengen keduanya. Loved to be trusted, trusted to be loved.

Nah, kalau dibalik pertanyaannya: do you love or trust?

Aku setuju sih kalau "cinta" doang kesannya hanya lust tanpa dasar. Kalau "percaya" berarti kan ada sesuatu yang gak keliatan secara fisik yang mungkin lebih ke attitude jangka panjang. But I believe when I'm with someone, ya harus ngasih keduanya sih. I, too, should love and trust. Dari tadi aku kepikiran apa yang dulu pernah diceletukin Mas Dipo (ex graphic designer-nya eFishery),

"Cowok itu harus dikasih kepercayaan, Haw."

Hmm. Yang kemudian aku benarkan sih dalam hati. Katanya, ada pride dalam diri laki-laki yang terluka kalau merasa gak dipercaya, sama lah kayak perempuan yang butuh diperhatiin. Tapi, menurutku antara "cinta" dan "percaya" itu saling terkait sih, dan yang terpenting ketika kita melakukan keduanya, pastikan aja terkomunikasikan dengan baik. Kita melihat dari kacamata kita yang seringnya berbeda dari kacamata orang lain. Jadi apa yang menurut kita A, bisa disalahartikan jadi B di sudut pandang lawan. Kita melakukan A karena we think that's the usual and ideal condition, and we want others to do the same, padahal kan gak bisa menyodorkan semuanya.

Sekian dulu ilmu relationship sotoy seharga baso ikan dari saya malam ini.
Sekian dulu pandanganku akan post-mu, Mas Dim. Nanti nulis soal resensi film gitu aja lah biar gampang ditanggepin, haha. Yaudah, sudah malam nanti terus ngelantur.

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day29

Tuesday, August 1, 2017

Hello, Real Reggy!

Meskipun hari ini gak berpasangan, aku mau inisiatif sendiri ah nulis tentang salah satu partisipan 31 Hari Menulis ini, sekaligus partner kerja yang duduknya sebelahan. Halo, real Reggy! :))

Pemilik nama akun yang bikin kita bertanya-tanya apakah ada "fake Reggy" ini adalah desainer grafis-nya eFishery sejak Januari (eh apa Desember ya, gy?). Sebelum ketemu orangnya aja, Pak Bos dan Ibu HR sudah diclaimer kalau calon desainer yang baru ini anaknya nyablak dan polos banget. Bener aja. Pas waktu hari pertama dia masuk, setelah sesi sama HR, siangnya doi tiba-tiba nyamperin,

"Kak, aku disuruh duduk deket Kak Hawa, katanya."

Lah, siape nih? Datang-datang bukannya kenalan tapi minta duduk sebelahan. Tapi karena reputasimu udah nyamper duluan jadi aku gak aneh sih, gy. Wqwqwq.

Semenjak itu, aku teracuni dengan kerecehan Reggy yang hqq. Cara ngetik aja kayak langsung terpengaruh gitu kalo ngomongin beliau. Kata Eggy (panggilan sayangnya), "wqwqwq" lebih gampang daripada "wkwkwk" karena w dan q sebelahan. Iyain aja deh. Terus entah karena sehari-harinya bergaul sama dia atau di IG aku emang follow akun macam @komikin_ajah yang banyak kosakata macam "tercyduk", "y x g kuy", inputan kerecehan ala milenial aku jadi banyak.

Layaknya orang-orang kreatif, Reggy juga seolah punya dunia sendiri gitu. Kalau udah pasang earphone, Reggy akan bekerja di realm-nya dia dengan playlist shuffle yang kutebak pasti isinya jarang diganti. Dia juga sering banget menyuarakan apa yang dibacanya karena menurutnya dengan begitu jadi lebih paham. Jadi jangan aneh kalau tiba-tiba dia ngomong sendiri terus ketawa sambil baca sesuatu di layar handphone-nya. Atau misalnya terlibat dalam percakapan tak berfaedah seperti,

Temen ngajak jamaahan: "Reggy, sholat gak?"
Reggy: "Siapa?"

Lah, gimana. :)))

Tapi, meski dengan ke-absurd-annya itu, aku sih respect dan hepi bisa kerja bareng Reggy. Respect karena aku yakin sama skill-nya. Porto-nya bagus, rapi, dan bisa bikin copy yang kadang gak kepikiran tapi on point. Eggy juga kerjanya cepet, dia bakal nanya seperlunya terus sat set sat set jadi deh brosur, logo, infografis, video, template foto. Hasilnya minim revisi karena secara garis besar udah mencakup apa yang diminta.

Kadang, Eggy juga wfh (work from home, one of the advantages working in eFishery :p) mostly karena gak punya baju. Ajaib kan. Tapi beberapa kali juga dia wfh karena butuh stimulasi audio yang maksimal alias pengen bebas dengerin lagu sambil nyanyi-nyanyi. Kalau itu dilakukan di kantor kan nantinya meresahkan warga. Nah, di situ yang aku sama Reggy sangat berbeda. I work best and focus ketika kondisi lingkungan kerja gak ada noise yang mendistraksi, karena dengan begitu aku bisa menyusun ide dan menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan. Sedangkan Reggy butuh musik yang disetel keras biar dia semangat dan fokus kerja. Harus saling pengertian ya, gy, hihi.

Kalau lagi "wfh pagi, cikutra siang" terus pas mau berangkat ke kantor ternyata hujan, suka setor muka dulu doi.
Walaupun berseberangan gitu, sebenernya aku sama dia sama-sama introvert. Siapa yang sangka anak yang keliatannya bocor dan haha-hehe ini adalah seorang introvert? Tapi, memang ternyata kalau dilihat dari sifatnya, Eggy ini introvert. Sama-sama suka bingung dengan keramaian yang asing, lebih baik sendiri daripada harus banyak berinteraksi, tapi kalau udah berinteraksi dengan orang-orang yang nyaman bagi kita, jadi keluarlah asli-aslinya. Kita juga gak masalah dengan kesendirian, karena otak introvert bekerja dengan baik ketika punya banyak waktu dengan dirinya sendiri. Tapi at times pasti butuh masukan dan diskusi sama orang lain yang enak diajak ngobrol juga. Oh, kita juga sama-sama susah mengungkapkan maksud dengan verbal. We introverts speak better without speaking. :p

I can value her juga karena ada sewaktu-waktu gitu yang dia encourage ketika aku ngeluh sesuatu, dia bakal bilang kayak "gak apapa, kak.. kan gini gini gini". Entah karena emang baik atau kebanyakan mantengin videonya Kirana jadi kepengaruh :))). Terus kalau baca tulisan-tulisannya, sebetulnya Eggy juga deep dalam berpikir, tapi ya dengan style-nya yang ringan, seringan uang kertas 500-an jaman dulu. Ampun, gy. :)) 

Real Reggy inu juga adalah artis yang karyanya direpost sama @dagelan, @komikin_ajah, dan bahkan @ridwankamil. Nih salah satu komik yang dia bikin, collab cerita sama aku:




Yang mau minta dibikin-bikinin sama Eggy ini harap mengantri karena orderan sampingannya banyaak, hihi.

Masih banyak sih hal yang bisa di-share kalau ngomongin doi mah. Tapi sekian dan terimakasih dulu deh untuk di postingan ini. Boleh banget berkunjung ke halaman blognya untuk input kerecehan harian Anda, atau cek IG-nya untuk lihat karya-karyanya yang lain.

Cheers!
#31dayswritingchallenge #day28