Thursday, July 6, 2017

Berantem Biar Pinter


Gw adalah pecinta damai. Tidak suka konflik, tidak suka debat, tidak suka beda pendapat, tidak suka berargumen.

Kalau ada dua orang (atau lebih) ribut, gw mendingan mundur dan jajan cuanki daripada harus menghadapi situasi panas orang-orang yang beradu pendapat.

Sepanjang gw bisa mengingat, mungkin lebih tepatnya sejak umur 12an, gw merasa tidak memiliki ruang untuk mengemukakan pendapat dan berdiskusi dua arah. Seperti kebanyakan hubungan antara orangtua-anak, orangtua berada di atas dan anak di bawah. Sehingga terbentuk stigma bahwa orangtua selalu benar. Being an old fashion which they know best, my parents display one of the classic roles; dad rules, mom nods. Because my dad is so bossy, (I think) I have no power over him to argue, gw durhaka kalau beda pendapat sama beliau. No need to argue because dad knows best, and I'm being Jon Snow--know nothing.

Dampaknya, tercipta di alam bawah sadar gw kalau beda pendapat itu haram, berargumen itu sia-sia karena pihak sana yang akan menang. As I get older, gw mulai memahami pentingnya bisa mengemukakan pendapat dan beragurmen sehat, tapi karena gw tidak biasa maka gw tidak bisa. Well, belum.

Rasanya otak ini juga jadi tumpul karena kebiasaan ditunjukin dan dikasih tahu mana yang bener. I mean, why bother to think, gw punya pendapat aja gak akan dihargai. Jadinya, I can say that my brain got so lazy when it comes to argument. Kasih aja ke orang lain yang lebih authoritative untuk memutuskan, gw angkat tangan, tahu beres aja.

Intinya sih, terlepas dari kebiasaan di keluarga yang mungkin kurang membentuk untuk jadi pribadi yang "sangar" atau dari gwnya yang jadi kebiasaan males mengemukakan pendapat, from now on, gw mendidik diri sendiri untuk bisa punya pendapat dan gak takut untuk bilang. Things have changed, you're not a kid anymore, you're surrounded by the people who trust you, you are the leader of your own life.

Berargumen memang tidak mudah sih, ada teknik-tekniknya yang bahkan bisa kita temuin how to-nya di rak Gramedia (dan kemudian gw beli). Ada waktu-waktunya, ada situasi-situasi yang mengharuskan kita ngomong, ada juga saatnya yang lebih baik diam. Ini semua akan terlatih sesuai jam terbangnya.

One thing I remember, kalau punya pendapat itu harus didukung alasan yang kuat. Jangan cuma "katanya" atau "perasaan sih gitu" atau asumsi, ya apalagi hoax. Ketika kita punya alasan yang kuat dan masuk akal, you're good to go. Mau "kalah" atau "menang" yang penting punya prinsip dan sudah terkomunikasikan dengan cerdas.

Dan satu lagi sih: pede. Gak sedikit orang yang kelihatannya bisa ngomong padahal kalau dilihat-lihat mah ngacapruk (ngelantur) gak jelas. Si 29 my age adalah bukti nyata orang kalau pede ngomong apa juga didenger (walopun ya diketawain di belakang). Jadi, pinter ngomong yang sesungguhnya itu ya kombinasi antara berani dan punya pendapat yang cukup solid. Oh, dan yang gak kalah penting juga: partner bicara yang bisa menghargai pendapat dengan gak cuma berorientasi "kelihatan pinter" atau "menang diskusi", tapi bertujuan agar tercipta komunikasi dua arah antara manusia dewasa.

Segitu dulu lah ramblingnya hari ini.

Kesimpulannya adalah,

Gw merasa tidak worthy karena kebiasaan gak mengemukakan pendapat, padahal gw worthy and I have to proof that I'm worthy.

Gw merasa tidak punya authority untuk bikin keputusan karena di alam bawah sadar ini terbentuk konsep bahwa gw tidak diberi kesempatan untuk memutuskan sesuatu yang besar, padahal gw punya kok authority.

Gimana caranya biar worthy dan authoritative? Berani dan punya prinsip yang logis.




Cheers!
#31dayswritingchallenge #day2

No comments:

Post a Comment